Apa Itu Tarekat, dan Perlukah Seorang Mursyid?
Daftar Isi
Hanya sedikit kata dalam dunia Islam yang memikul muatan seberat kata tarekat. Di sebagian negeri ia datang terbungkus berita dan urusan politik. Di negeri lain ia nyaris tidak dikenal sama sekali. Di balik keduanya berdiri sebuah lembaga yang sederhana, berumur seribu tahun, dan dapat dijelaskan dalam satu kalimat. Tarekat adalah sekolah hati: sebuah jalur pengajaran yang mewariskan, dari guru kepada murid, metode teruji untuk menyucikan jiwa.
Kedudukan tarekat bagi kehidupan batin serupa dengan kedudukan mazhab bagi hukum. Artikel sebelumnya bertanya apakah tasawuf bagian dari Islam. Artikel ini mengambil pertanyaan yang menyusul sesudahnya. Jika tasawuf adalah ilmu tentang ihsan, di mana sebenarnya orang mempelajarinya, dan dari siapa?
Kata dan Kenyataannya
Tariqah berarti jalan. Pada abad-abad pertama Islam belum ada tarekat yang terorganisasi. Yang ada hanyalah para guru, dan orang-orang yang duduk bersama mereka. Para pencari berkumpul di sekeliling seorang ahli kehidupan batin sebagaimana para penuntut hadis berkumpul di sekeliling seorang muhaddits: mereka datang demi ilmu yang hidup dalam diri seseorang, memperhatikan cara ia salat dan cara ia memperlakukan orang lain, lalu tinggal bertahun-tahun.
Tarekat yang terorganisasi baru muncul pada abad kedua belas dan ketiga belas, ketika metode seorang guru besar dipelihara oleh murid-muridnya dan diberi namanya. Jalan Abdul Qadir al-Jilani (w. 1166) menjadi tarekat Qadiriyah. Jalan Abu al-Hasan asy-Syadzili (w. 1258) menjadi tarekat Syadziliyah. Warisan Rumi (w. 1273) disusun oleh putranya menjadi tarekat Mevlevi, jalan Baha al-Din Naqsyband (w. 1389) menjadi Naqsyabandiyah, jalan Omer el-Halveti (w. sekitar 1397) menjadi Halvetiyah. Tanggal-tanggal itu penting karena satu hal. Tarekat tidak menciptakan jalan; ia memelihara metode yang sudah lama ada, sebagaimana empat mazhab memelihara cara membaca syariat yang lebih tua daripada nama-nama mereka.
Mengapa Tradisi Menekankan Kehadiran Guru
Mulailah dari hal yang biasa. Tidak ada orang yang belajar membaca Al-Qur’an hanya dari buku. Seluruh kaidah tajwid bisa dicetak, namun murid tetap membutuhkan mulut untuk ditiru dan telinga yang membetulkan bacaannya. Kaligrafi demikian juga, begitu pula ilmu kedokteran dan pertukangan. Setiap keahlian berpindah dari tangan ke tangan. Keyakinan kaum sufi ialah bahwa penyucian hati juga sebuah keahlian, yang paling sulit di antara semuanya, dan ia berpindah dengan cara yang sama.
Ada alasan yang lebih tajam di bawahnya. Kerja tazkiyah dilakukan atas nafs, dan nafs adalah satu-satunya pasien yang menulis sendiri diagnosisnya. Ia menyebut amarahnya prinsip, kemalasannya kesabaran, kesombongannya harga diri. Pemeriksaan diri gagal justru di titik yang paling membutuhkannya. Maka tradisi memberi si pencari sebuah cermin: pergaulan dengan orang-orang yang tulus, suhbah, dan di dalamnya satu orang yang tugasnya mengatakan kebenaran tentang diri Anda. Al-Qur’an memerintahkan, “Hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar” (9:119), dan dari ayat itu tradisi membangun sebuah lembaga.
Tradisi juga menunjuk pada cara iman itu sendiri diwariskan. Para Sahabat dibentuk oleh tahun-tahun kebersamaan dengan Nabi, bukan oleh lembaran teks. Segala yang dilakukan tarekat adalah upaya menjaga agar bentuk yang lebih kecil dari kebersamaan itu tetap tersedia bagi generasi kemudian. Apa yang diterima langsung oleh umat pertama, diterima oleh generasi berikutnya melalui sebuah rantai.
Rantai yang Dapat Ditelusuri
Rantai itu punya nama, silsilah: garis para guru yang tercatat, murid demi murid, menjangkau ke belakang sampai kepada Nabi. Cara kerjanya seperti isnad sebuah hadis. Sebelum menerima sebuah metode, Anda boleh bertanya dari mana ia berasal, siapa yang mengajarkannya, dan siapa pula yang mengajari mereka.
Rantai itu menjamin asal-usul dan pertanggungjawaban. Ia tidak menjamin bahwa setiap orang yang menempati kedudukan di dalamnya adalah wali, dan tradisi tidak pernah mengklaim demikian. Silsilah adalah sebuah dokumen, dan seperti setiap dokumen ia bisa dibawa oleh tangan yang layak maupun yang tidak layak. Justru karena itulah kitab-kitab klasik menghabiskan begitu banyak halaman untuk pertanyaan berikutnya.
Apa Itu Syekh, dan Apa Batasnya
Nama klasik bagi sang pembimbing adalah mursyid, orang yang menunjukkan jalan, atau thabib al-qulub, tabib hati. Kerjanya adalah diagnosis dan resep: murid yang ini membutuhkan lebih banyak dhikr dan lebih sedikit perdebatan, yang itu membutuhkan kerja dan pelayanan, yang ketiga membutuhkan istirahat. Apa yang diberikan buku cetak kepada semua orang, diberikan seorang guru kepada orang yang duduk di hadapannya.
Kitab-kitab pedoman sama jelasnya tentang apa yang selamanya bukan wilayah seorang syekh. Ia bukan sasaran penyembahan dan tidak mengambil bagian sedikit pun darinya. Ia tidak mengampuni dosa, tidak berdiri sebagai perantara yang menggantikan rahmat Allah, dan tidak memegang kedudukan apa pun di atas syariat. Kitab-kitab itu memberi tolok ukur yang dapat diperiksa seorang pencari: ilmu yang kokoh tentang syariat, izin mengajar (ijazah) dalam silsilah yang dikenal, perilaku yang mengikuti Sunnah, tidak ada selera terhadap uang atau ketenaran, dan di atas semuanya tanda ini: pembimbing sejati mengarahkan orang menjauh dari dirinya sendiri. Kaidah lama berbicara lugas tentang kebalikannya. Syekh yang amalannya bertentangan dengan syariat harus ditinggalkan, sebesar apa pun namanya.
Sebuah ucapan yang masyhur dinisbatkan kepada Bayazid Bistami memperingatkan bahwa siapa yang tidak mempunyai guru akan mendapati setan menawarkan diri untuk pekerjaan itu. Tradisi membacanya sebagai peringatan terhadap membimbing diri sendiri, terhadap ego yang menilai pekerjaannya sendiri, dan tidak membacanya sebagai ketetapan hukum. Dari sinilah muncul pertanyaan yang sesungguhnya ingin dijawab semua orang.
Wajibkah Bergabung dengan Tarekat?
Tidak. Jawaban jujur dari arus utama tradisi ialah bahwa kewajiban adalah wilayah syariat, dan syariat mewajibkan salat, puasa, kejujuran, serta penyucian jiwa itu sendiri: “Sungguh beruntung orang yang menyucikannya” (91:9). Syariat tidak mewajibkan keanggotaan dalam tarekat mana pun. Tarekat adalah sarana. Pengalaman seribu tahun menilainya sarana yang luar biasa berhasil, dan tradisi tidak pernah mengangkatnya menjadi syarat keselamatan. Banyak ulama besar berjalan bersama tarekat; al-Ghazali, dengan seluruh keluasan ilmunya, sampai pada kesimpulan bahwa jalan ini harus ditempuh dan tidak cukup hanya dibaca. Banyak pula Muslim saleh yang hidup dan wafat di luar tarekat mana pun, dan tidak ada otoritas serius yang mempersoalkan kedudukan mereka.
Yang akan diajukan balik oleh para guru kepada si penanya bersifat praktis, bukan hukum. Anda diperintahkan menyucikan hati. Bagaimana, secara nyata, Anda hendak melakukannya? Apa metode Anda, apa disiplin harian Anda, dan siapa dalam hidup Anda yang akan mengatakan kebenaran tentang diri Anda selagi Anda mencoba? Orang yang punya jawaban baik atas pertanyaan-pertanyaan itu sudah berjalan. Tarekat ada bagi kebanyakan kita yang tidak sanggup menjawabnya sendirian.
Ketika Lembaga Itu Gagal
Artikel yang jujur harus mengatakannya terang-terangan: lembaga ini bisa gagal. Sejarah dan masa kini sama-sama memperlihatkan pembimbing yang mengklaim dirinya tak mungkin salah, kursi yang diwariskan kepada anak seperti harta, ketaatan yang dituntut melampaui batas syariat, dan kosakata jalan ini yang dipakai untuk mengumpulkan uang dan kekuasaan. Tidak ada satu pun dalam paragraf ini yang baru bagi tradisi. Kitab-kitab pedomannya sendiri, dari Risalah karya Qusyairi sampai Awarif al-Ma’arif karya Suhrawardi, sebagian besar ditulis justru untuk membekali para pencari menghadapi orang yang berpura-pura, dan tolok ukur pada bagian sebelumnya adalah daftar periksa milik tradisi itu sendiri.
Kesimpulan yang ditarik para guru patut dicamkan. Keberadaan tabib gadungan adalah alasan bagi tegaknya standar kedokteran, dan tidak pernah menjadi alasan untuk menolak ilmu kedokteran. Yang ditemukan pencari yang bertemu syekh yang rusak adalah alasan mengapa kitab-kitab bersikeras pada tolok ukurnya.
Satu Tujuan, Banyak Jalan
Tarekat-tarekat berbeda sebagaimana para guru berbeda, dalam watak dan teknik, sementara tujuan tetap satu. Tarekat Mevlevi menempa ingatan kepada Allah menjadi disiplin sema. Tarekat Naqsyabandi menghaluskan dhikr yang senyap dan kesendirian di tengah keramaian. Tarekat Halveti membangun kurikulumnya di atas khalwat dan tujuh nama pendakian jiwa. Tarekat Qadiri dan Syadzili membawa jalan ini ke dalam setiap lapangan kehidupan kerja sehari-hari. Artikel situs ini tentang Syariat, Tarekat, Hakikat menggambarkan bangunan yang mereka miliki bersama: syariat sebagai akar, tarekat sebagai perjalanan, hakikat sebagai buah, dan tidak ada satu tahap pun yang membatalkan tahap sebelumnya.
Anatolia mengenal keragaman ini sebagai kenyataan hidup sehari-hari. Satu kampung Utsmani bisa memuat sebuah pondok Mevlevi, sebuah pondok Halveti, dan sebuah madrasah di jalan yang sama, diampu oleh orang-orang yang salat di masjid yang sama. Tarekat-tarekat bersaing sebagaimana sekolah-sekolah yang baik bersaing, dan tradisi memandang keragaman itu sebagai rahmat.
Jawabannya
Jadi: tarekat adalah sekolah ihsan, syekh adalah guru sebuah keahlian, silsilah adalah bukti asal-usul sekolah itu yang tercatat, dan keanggotaan adalah sarana yang dianjurkan tradisi dan tidak diwajibkan syariat. Kewajiban yang berdiri di bawah semuanya lebih tua daripada tarekat mana pun: meninggalkan kehidupan ini dengan hati yang selamat.
Tidak ada tarekat yang memiliki tujuan itu. Yang dimiliki sebuah tarekat adalah peta, digambar dan diperbaiki oleh generasi demi generasi yang menempuh jalan ini lebih dahulu dan mencatat di mana ia terendam banjir, di mana ia bercabang, dan di mana para musafir tersesat. Anda boleh mencoba perjalanan ini tanpa peta. Tradisi, setelah mengamati para pencari selama seribu tahun, hanya menyampaikan apa yang telah dilihatnya, dan meletakkan pilihan di tempat yang semestinya: di tangan Anda.
Sumber
- Al-Qur’an 9:119 dan 91:9-10
- Al-Qusyairi, al-Risalah al-Qusyairiyyah (sekitar 1046)
- As-Suhrawardi, Awarif al-Ma’arif (sekitar 1234)
- Al-Hujwiri, Kasyf al-Mahjub (abad ke-11)
- Al-Ghazali, al-Munqidz min adh-Dhalal (sekitar 1108)
Tag
Artikel Terkait
Apakah Tasawuf Bagian dari Islam? Kedudukan Tasawuf yang Sebenarnya
Apakah tasawuf bagian dari Islam? Kedudukan tasawuf dalam tradisi: sumber Quraninya, ilmu ihsan, dan para ulama yang men...
DasarTujuh Tahapan Jiwa (Nafs) dalam Tradisi Sufi
Tujuh tahapan nafs, peta jiwa dalam tasawuf: dari jiwa yang memerintah hingga jiwa yang tenang, berpijak pada Al-Quran d...
DasarTazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Tasawuf
Tazkiyatun nafs, penyucian jiwa: akarnya dalam Al-Quran, metode dzikir, muhasabah dan sohbet, serta pendakian jiwa menuj...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Apa Itu Tarekat, dan Perlukah Seorang Mursyid?.” sufiphilosophy.org, 5 Agustus 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/apa-itu-tarekat