Nafsu Amarah: Jiwa yang Menyuruh kepada Keburukan
Daftar Isi
Al-Quran mengabarkan bahwa orang yang menyucikan jiwanya akan selamat: “Demi jiwa dan Dia yang menyempurnakannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya” (Surah Asy-Syams 91:7-9). Menurut ayat ini, manusia selamat sejauh ia membersihkan nafsnya dari kekafiran dan dari akhlak yang buruk. Tetapi tidak ada orang yang dapat membersihkan sesuatu yang belum dikenalnya. Karena itu tasawuf memulai pekerjaannya dengan mengenal nafs. Bersandar pada Al-Quran, para guru tasawuf menyebut tujuh tahapan nafs, dan tahap yang pertama adalah nafs al-ammarah, yang dalam bahasa kita biasa disebut nafsu amarah. Dalam tulisan ini kita akan membahas tahap yang pertama itu. Ketujuh tahapan selengkapnya dapat dilihat dalam artikel tahapan jiwa.
Nafsu Amarah dalam Al-Quran
Ammarah berarti “yang selalu menyuruh”. Istilah ini diambil dari ayat Surah Yusuf berikut: “Aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan. Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku” (Surah Yusuf 12:53). Elmalili Hamdi Yazir, seorang mufasir Turki, menafsirkan ayat ini demikian: jiwa manusia, jika dibiarkan sendirian, condong kepada keburukan dan memakai seluruh kekuatannya ke arah itu, karena kecondongan ini termasuk dalam cara ia diciptakan. Orang yang tinggal sendirian bersama nafsnya akan terseret kepada keburukan. Hanya orang yang diberi rahmat oleh Allah yang selamat dari hal ini.
Ayat ini diucapkan oleh seorang nabi. Nabi Yusuf telah melewati ujian yang besar dengan kehormatan yang utuh, dan ia tetap berkata, “Aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan.” Sisi nafs yang seperti ini ada pada setiap orang, dan tugas manusia adalah menyadarinya.
Tanda-Tanda Nafsu Ini
Nafsu amarah adalah nafs yang menempatkan tuntutan badan di atas segala hal. Kenikmatan dan kesenangan datang lebih dulu, dan suara hati serta suara nurani tertinggal di belakang. Orang pada tahap ini menjalankan bisikan setan seolah-olah bisikan itu sebuah perintah. Amarahnya meledak sebelum ia sempat berpikir. Ia memandang keburukan yang dilakukannya sebagai hal biasa, ia tidak merasa menyesal, dan ia tidak mengingat kematian. Berdusta, gibah, dan mengolok-olok terasa ringan baginya. Penderitaan orang lain tidak menjadi urusannya, karena di matanya tidak ada orang lain selain dirinya sendiri.
Dalam perkataan yang diriwayatkan al-Qusyairi dalam Risalah-nya, Junayd al-Baghdadi menerangkan nafs ini dengan singkat: nafs ini mengajak manusia kepada kebinasaan, menolong musuh, dan menuruti keinginannya sendiri. Musuh yang dimaksud di sini adalah setan, dan nafsu amarah adalah sekutu setan di dalam diri manusia, bukan di luar dirinya.
Sisi yang paling berbahaya dari tahap ini adalah bahwa orang yang berada di dalamnya tidak mengakui dirinya berada di dalamnya. Nafs membuat setiap perbuatannya tampak baik di matanya sendiri. Orang itu mencari alasan bagi kesalahannya dan tidak memandang dirinya buruk. Karena itu orang yang berada pada tahap nafsu amarah biasanya menyangka dirinya orang yang baik.
Kagum pada Diri Sendiri
Para guru tasawuf melihat satu akar di bawah semua tanda ini, yaitu rasa puas terhadap diri sendiri. Tasawuf menyebut sikap ini ujub. Ibn Atha’illah al-Iskandari menulis dalam Al-Hikam: “Akar setiap dosa, kelalaian, dan syahwat adalah rasa puas seseorang terhadap dirinya sendiri. Akar setiap ketaatan, kesadaran, dan penjagaan diri adalah rasa tidak puas terhadapnya.” Orang yang puas terhadap dirinya tidak mempertanyakan dirinya, dan orang yang tidak mempertanyakan dirinya tidak akan memperbaiki dirinya.
Nabi menyampaikan hal yang sama dengan kata-kata yang lain: “Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk kehidupan sesudah mati. Orang yang lemah adalah orang yang menuruti keinginan jiwanya dan tetap berharap kebaikan dari Allah” (Tirmidzi, Qiyamah 25). Orang yang disebut lemah di sini adalah orang yang mengikuti nafsnya dan tetap yakin bahwa dirinya selamat.
Obatnya
Nafsu amarah bukanlah takdir yang tidak dapat diubah. Al-Quran membiarkan pintu tetap terbuka bagi orang yang berada pada tahap ini: “Barangsiapa berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya sendiri, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Surah An-Nisa 4:110). Karena itu langkah yang pertama adalah tobat.
Sesudah tobat, ahli tasawuf menunjukkan jalan berikut. Orang itu menjadikan zikir, yaitu mengingat Allah, sebagai bagian dari harinya. Ia menjauhi teman dan tempat yang membawanya kepada dosa. Ia mendekat kepada orang-orang saleh yang wajah mereka mengingatkan kepada Allah, dan ia menghadiri majelis sohbet, karena makanan adalah gizi bagi badan, dan ibadah serta pergaulan dengan orang baik adalah gizi bagi hati. Ia juga menjaga diri agar tidak terlalu banyak sendirian, karena nafsu amarah berbicara paling keras dalam kesendirian. Al-Ghazali menguraikan pendidikan ini panjang lebar dalam Ihya Ulumiddin, dan di Anatolia kitab Muzakki an-Nufus karya Eshrefoglu Rumi mengajarkan jalan yang sama dalam bahasa Turki selama berabad-abad.
Ketika seseorang mulai menempuh jalan ini, nafsnya tidak berubah seketika, tetapi orangnya mulai berubah. Pada saat ia merasa tidak tenang karena keburukan yang dilakukannya dan mulai mencela dirinya sendiri, ia telah melangkah ke tahap yang kedua. Tahap itu bernama nafsu lawwamah, dan kita akan membahasnya dalam tulisan tersendiri.
Sumber
- Al-Quran, Asy-Syams 91:7-9; Yusuf 12:53; An-Nisa 4:110
- At-Tirmidzi, Sunan, Qiyamah 25
- Elmalili M. Hamdi Yazir, Hak Dini Kur’an Dili, tafsir Yusuf 12:53
- Al-Qusyairi, Ar-Risalah, terj. Süleyman Uludağ, Dergâh Yayınları
- Ibn Atha’illah al-Iskandari, Al-Hikam al-Atha’iyyah
- Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, “Kitab Riyadhah an-Nafs”
- Eshrefoglu Rumi, Muzakki an-Nufus, ed. Abdullah Uçman, İnsan Yayınları, 2007
Tag
Artikel Terkait
Nafs al-Muthma'innah: Jiwa yang Tenang
Nafs al-muthma'innah, jiwa yang tenang yang disebut Al-Quran: apa maknanya, tanda-tandanya, jalan menuju ke sana, dan ca...
DasarTazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Tasawuf
Tazkiyatun nafs, penyucian jiwa: akarnya dalam Al-Quran, metode dzikir, muhasabah dan sohbet, serta pendakian jiwa menuj...
DasarTujuh Tahapan Jiwa (Nafs) dalam Tradisi Sufi
Tujuh tahapan nafs, peta jiwa dalam tasawuf: dari nafsu amarah hingga jiwa yang tenang, berpijak pada Al-Quran dan amala...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Nafsu Amarah: Jiwa yang Menyuruh kepada Keburukan.” sufiphilosophy.org, 6 September 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/nafs-al-ammarah