Skip to content

Glosarium

Istilah-istilah klasik tasawuf yang dipakai di sepanjang arsip ini. Setiap entri ringkas; uraian lebih panjang, jika tersedia, ada di artikelnya tersendiri.

Abdiyyah
Penghambaan, kedudukan dasar seorang mukmin di hadapan Allah. Menjadi abd berarti mengakui bahwa diri tidak memiliki apa-apa dari dirinya sendiri, baik wujud maupun daya, dan berdiri sepenuhnya dalam keadaan menerima. Tasawuf memandang abdiyyah sebagai martabat tertinggi yang dapat dicapai manusia.
Adab
Kesantunan, tata laku lahir dan batin di jalan tasawuf. Adab membentuk cara duduk, berbicara, mendengar, dan berzikir, dan mendahului setiap amal lainnya. Tanpa adab, kata para guru, dhikr dan suhbah tidak akan berakar.
Ahwâl
Bentuk jamak dari hâl: keadaan-keadaan sementara yang dialami hati, dianugerahkan oleh Allah, bukan diperoleh dengan usaha. Sebuah ahwâl dapat berupa rasa khauf, lapang, sempit, atau rindu, dan datang tanpa dicari. Sang sâlik tidak mencari keadaan, ia menyiapkan wadahnya.
Baqâ
Tetap berdiri bersama Allah setelah fanâ. Setelah klaim nafs atas keberadaan yang mandiri runtuh, sang hamba kembali ke dunia, beramal, berbicara, dan mencintai, namun tidak lagi dari pusat yang palsu. Baqâ adalah fanâ yang dijadikan dapat dihidupi.
Dhikr
Mengingat Allah, pengulangan nama-nama-Nya atau lafaz yang diajarkan secara disiplin. Dhikr adalah amal pokok dalam tarekat sufi, dijaga pada lisan, di dalam hati, dan pada latifah-latifah jiwa yang tersembunyi. Al-Qur'an memerintahkannya secara langsung.
Fanâ
Peniadaan, runtuhnya klaim nafs atas keberadaan mandiri. Fanâ bukan lenyapnya makhluk, melainkan ambruknya pengakuannya bahwa ia berdiri dengan dirinya sendiri. Pembedaan antara Khalik dan makhluk tetap utuh; yang terbakar adalah pemberhalaan ego terhadap dirinya.
Faqr
Kefakiran ruhani, pengakuan batin bahwa hamba tidak memiliki apa-apa dan butuh segala sesuatu dari Allah. Faqr bukan kemelaratan harta, melainkan keengganan hati untuk bersandar pada yang bukan Yang Hakiki. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "al-faqr fakhrî", kefakiran adalah kebanggaanku.
Firâq
Perpisahan, rindunya hati pada Sumbernya. Bait-bait pembuka Matsnawi Rumi menyenandungkan keluhan ney tentang firâq: buluh yang terpotong dari rumpunnya, ruh yang terpisah dari asalnya. Firâq adalah penggerak perjalanan pulang.
Fitrah
Kecenderungan asal yang dianugerahkan Allah pada hati manusia, secara alami terarah pada tauhid. Setiap anak, sabda Nabi, dilahirkan di atas fitrah. Kerja jalan ini bukan membuat diri yang baru, melainkan menyingkirkan apa yang menutupi keterarahan asal ini.
Hâl
Keadaan sesaat dalam hati, dianugerahkan oleh Sang Kekasih dan tidak ditahan oleh usaha hamba. Hâl datang dan pergi; ia tidak dapat dipanggil. Tugas sâlik adalah kesetiaan kepada maqâm, kedudukan yang menetap; hâl adalah anugerah yang singgah pada kedudukan itu.
Hakikat
Kebenaran yang direalisasikan, register batin di balik pengetahuan formal. Hakikat adalah apa yang diperintahkan syariat dan ditempuh tarekat: cita rasa langsung dari yang sebelumnya hanya diyakini lewat kabar. Ia tak pernah terpisah dari syariat; ia adalah wajah batinnya.
Hudur
Kehadiran, tegaknya hati di hadapan Allah. Hudur adalah buah dari murâqabah dan inti dari ihsân: mengingat bahwa engkau dilihat sekalipun engkau tidak melihat. Ia bukan teknik psikologis, melainkan sikap abdiyyah.
Ihsân
Beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu. Ihsân adalah tingkatan ketiga dalam hadis Jibril, setelah islâm dan îmân. Tasawuf adalah disiplin ihsân.
Isyq
Cinta ilahi dalam derajatnya yang paling membakar, cinta yang melahap dan menata ulang sang pencinta. Isyq adalah register Rumi, al-Hallâj, dan Yunus Emre: cinta yang tidak lagi diukur, cinta yang telah memasuki nyala. Ia tetap berada dalam tauhid yang ketat.
Kasyf
Tersingkapnya tirai antara hati dan Yang Hakiki. Kasyf bukan kepemilikan yang diraih hamba, melainkan singkapan yang dianugerahkan Allah. Para guru mengingatkan sâlik agar tidak pernah mencari kasyf demi kasyf itu sendiri.
Khalwat
Uzlah, menarik diri dari kesibukan biasa untuk dhikr dan murâqabah yang berkelanjutan di bawah bimbingan seorang mursyid. Khalwat memecah kebisingan permukaan yang menutup hati. Ia selalu disudahi dengan kembali, tidak dimutlakkan: sâlik dikirim kembali ke dunia.
Khâmûsh
Diam, kata khas Rumi pada akhir ghazal-ghazalnya. Khâmûsh adalah pengakuan bahwa apa yang dirasakan hati melampaui apa yang dapat dipikul lisan. Pada titik tertentu, ucapan harus memberi tempat pada pendengaran.
Mahabbah
Cinta ilahi, kelekatan yang abadi antara hamba dan Allah. Mahabbah adalah kehangatan yang memberi makan dhikr dan gaya tarik yang mengembalikan hati ke kiblatnya. Dalam tipologi para guru, mahabbah mendalam menjadi isyq.
Makrifat
Pengenalan langsung kepada Allah melalui kasyf, berbeda dari ilmu yang diketahui lewat kabar. Makrifat adalah register ârif: Allah dikenal bukan sebagai konsep, melainkan sebagai Yang menyingkapkan diri kepada hati yang telah disiapkan. Ia tetap anugerah, bukan kepemilikan.
Maqâm
Kedudukan jiwa yang menetap, diraih dengan disiplin dan dikukuhkan dengan rahmat. Berbeda dari hâl, maqâm berlanjut. Yang telah meraih sabr sebagai maqâm sabar dalam segala cuaca; yang hanya merasakan sabar sebagai hâl hanya sabar ketika angin mengizinkan.
Murâqabah
Pengawasan hati di bawah pandangan Allah, ihsân yang diambil sebagai disiplin harian. Murâqabah adalah kewaspadaan yang mengikuti dhikr: hati mengetahui dirinya dipandang dan mengatur geraknya sesuai itu. Ia bukan introspeksi, ia adalah berdiri.
Nafs
Diri, ego, atau jiwa rendah, bergantung pada tingkatnya. Al-Qur'an menyebut tiga register: ammârah (yang menyuruh kepada keburukan), lawwâmah (yang mencela diri), dan muthma'innah (yang tenang). Para guru memperluasnya menjadi tujuh kedudukan penyucian bertahap.
Qalb
Hati, kedudukan persepsi ruhani dalam antropologi sufi. Qalb adalah organ makrifat, ruang yang dibolak-balikkan oleh Allah. Penyucian qalb adalah objek sebenarnya dari seluruh jalan.
Ridhâ
Kerelaan terhadap ketetapan Allah, penerimaan terhadap apa yang dipilihkan-Nya bagi hamba. Ridhâ adalah buah dari sabar yang panjang dan tawakkul yang mendalam. Hati yang sampai pada ridhâ menemukan ketenangan dalam pilihan yang bukan dari dirinya.
Syariat
Teladan kenabian dan hukum lahir, tanah dari mana jalan ini ditempuh. Syariat bukan kulit yang dibuang; ia adalah tanah tempat tarekat dan hakikat tumbuh. Para guru menegaskan: bentuk tanpa ruh kosong, ruh tanpa bentuk tak berakar.
Tarekat
Jalan batin, perjalanan disiplin di atas syariat di bawah bimbingan mursyid dan dalam jamaah. Tarekat menunjuk baik pada perjalanan batin ini maupun pada ordo-ordo (Mevlevi, Naqsyabandi, Qadiri, Syadzili) yang mewariskan metodenya lintas generasi.
Tauhid
Keesaan ilahi, pengakuan bahwa tidak ada yang berdiri dengan dirinya sendiri kecuali Allah. Tauhid adalah poros Islam dan substansi perjalanan sufi: berhala-berhala tersembunyi dalam nafs dibongkar satu demi satu hingga syahadat tidak lagi sekadar dilafalkan, melainkan dihidupi.
Tawakkul
Berserah kepada Allah setelah berusaha. Tawakkul bukan meninggalkan ikhtiar; ia adalah melepaskan hasil. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: ikatlah untamu, lalu bertawakkullah. Yang dikerjakan milikmu, hasilnya milik Allah.
Taubat
Berbalik, kembalinya hati kepada Allah setelah tergelincir. Taubat bukan upacara sekali jadi, melainkan irama seluruh perjalanan: hamba berbalik, tergelincir, dan berbalik lagi, sementara Allah adalah al-Tawwâb, Yang terus-menerus menerima taubat.
Wahdat al-Wujud
Kesatuan wujud, kerangka metafisika Ibn 'Arabî. Wahdat al-wujud menegaskan bahwa segala wujud adalah penyingkapan diri Yang Hakiki yang satu, sementara pembedaan Khalik-makhluk tetap mutlak. Ia bukan panteisme; ia adalah metafisika tauhid yang dibawa sampai ke ujungnya.