Tujuh Tahapan Jiwa (Nafs) dalam Tradisi Sufi
Diperbarui: 6 September 2026
Daftar Isi
Dalam tasawuf, nafs berarti diri seseorang sendiri. Keinginan, watak, dan kebiasaan semuanya tercakup dalam kata ini. Jalan tasawuf berdiri di atas pendidikan diri ini. Al-Quran menyebut tiga keadaan nafs: jiwa yang menyuruh kepada keburukan (Surah Yusuf 12:53), jiwa yang mencela dirinya sendiri (Surah Al-Qiyamah 75:2), dan jiwa yang tenang (Surah Al-Fajr 89:27). Bertolak dari tiga keadaan ini, para guru tasawuf menetapkan tujuh tahapan yang dilalui nafs. Mereka menyebutnya athwar as-sab’ah, tujuh tahapan. Dalam tulisan ini kita akan membahas lebih dulu bagaimana pemahaman ini terbentuk, kemudian tiap tahapan satu per satu, dan pada akhirnya untuk apa ilmu ini berguna. Latihan yang memindahkan nafs dari satu tahap ke tahap berikutnya dibahas dalam artikel tersendiri: tazkiyatun nafs.
Perkembangan Historis
Pemahaman tentang tujuh tahapan terbentuk sedikit demi sedikit. Para zahid awal seperti Hasan al-Basri (w. 728) memperhatikan dua keadaan yang disebut Al-Quran: jiwa yang menyuruh kepada keburukan dan jiwa yang tenang. Mereka menanyakan satu hal: bagaimana seseorang berpindah dari yang satu ke yang lain melalui tobat dan ibadah. Pada abad kesepuluh Abu Talib al-Makki mulai menguraikan keadaan-keadaan di antara keduanya dalam kitabnya Qut al-Qulub. Al-Qusyairi dalam Ar-Risalah memisahkan maqam dari hal. Maqam adalah derajat yang diperoleh dengan usaha dan menetap. Hal adalah perasaan ruhani yang diberikan Allah dan kemudian berlalu.
Sekarang tujuh tahapan ini lebih sering dikaitkan dengan nama Ibnu Arabi. Padahal Najm al-Din Kubra (w. 1221), seorang sufi dari Asia Tengah, menuliskan skema ini dengan paling jelas. Kubra menguraikan tanda-tanda tiap tahap dan amalan yang harus dikerjakan pada tiap tahap secara terpisah. Muridnya, Ala al-Dawlah al-Simnani, memasangkan tiap tahap dengan keadaan seorang nabi. Al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin membawa ilmu ini ke dalam bahasa akhlak yang dapat dibaca siapa saja. Di Anatolia, Tarekat Halveti memasangkan tujuh tahapan dengan tujuh nama Allah dan memberi tiap tahap zikirnya sendiri.
Tujuh Tahapan
Dalam tasawuf, orang yang memasuki jalan ini disebut salik (penempuh jalan), dan guru yang membimbingnya disebut mursyid. Pada tiap tahap kita akan melihat tiga hal: bagaimana keadaan nafs pada tahap itu, apa bahayanya, dan apa yang harus dikerjakan salik.
1. Nafs al-Ammarah (Jiwa yang Memerintah)
Ammarah berarti “yang selalu menyuruh”; dalam bahasa kita tahap ini biasa disebut nafsu amarah. Istilah ini diambil dari ayat Al-Quran “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku” (Surah Yusuf 12:53). Pada tahap ini nafs belum terdidik. Selera, amarah, dan kebiasaan mengendalikan orang itu. Ia memandang keburukan yang dilakukannya sebagai hal biasa dan tidak merasa menyesal. Dari luar ia belum tentu tampak sebagai orang jahat; ia bisa saja disukai dan berhasil. Namun ia menjalani hidupnya tanpa pernah mempertanyakannya. Tahap ini dibahas dalam artikel tersendiri: Nafsu Amarah, jiwa yang menyuruh kepada keburukan.
Pada tahap ini salik belajar melawan nafsunya. Obat tahap ini adalah shalat lima waktu, puasa, tobat, dan bergaul dengan orang-orang yang sudah lebih jauh di jalan ini. Pada tahap ini mursyid menjadi semacam hati nurani pinjaman bagi salik, karena salik belum dapat melihat kekurangannya sendiri.
2. Nafs al-Lawwamah (Jiwa yang Mencela Dirinya)
Lawwamah berarti “yang mencela”. Istilah ini diambil dari ayat Al-Quran “Aku bersumpah demi jiwa yang mencela dirinya sendiri” (Surah Al-Qiyamah 75:2). Pada tahap ini nafs mulai melihat dirinya sendiri. Salik menyadari bahwa ia jatuh berulang kali ke dalam kesalahan yang sama, lalu menyesal dan mencela dirinya. Keadaan ini tidak nyaman, tetapi merupakan langkah besar, karena kini ada mata di dalam diri yang mengawasi nafs. Allah bersumpah demi jiwa ini, dan itu menunjukkan nilainya. Dalam tasawuf, melihat kekurangan diri dihitung sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
Bahaya tahap ini adalah kebimbangan. Salik melihat kesalahannya, tetapi belum sanggup melawannya. Ia bertekad, melanggar tekadnya, bersedih, lalu bertekad lagi. Obatnya ada tiga: berzikir setiap hari, bergaul dengan sesama penempuh jalan, dan bermuhasabah setiap malam lalu menceritakannya kepada mursyid. Pada tahap ini salik melihat keadaannya sekarang dan sekaligus keadaan yang dapat dicapainya. Jarak antara keduanya melelahkannya.
3. Nafs al-Mulhamah (Jiwa yang Terilhami)
Mulhamah berarti “yang menerima ilham”. Istilah ini diambil dari ayat Al-Quran “Demi jiwa dan Dia yang menyempurnakannya, lalu Dia mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaannya” (Surah Asy-Syams 91:7-8). Pada tahap ini salik mulai membedakan bisikan nafsu dari suara benar yang datang dari Allah. Belas kasih dan kedermawanan kini muncul dengan sendirinya, tanpa dipaksakan.
Bahaya tahap ini adalah kagum pada diri sendiri; tasawuf menyebutnya ujub. Salik dapat berpikir, “Aku menerima ilham, jadi aku istimewa,” dan mengira dirinya sudah sampai di ujung jalan. Karena itu para mursyid mengawasi salik pada tahap ini dengan saksama. Obatnya ada tiga: berkhidmat kepada orang lain, membaca kisah kerendahan hati para wali besar, dan menceritakan kepada mursyid setiap keadaan yang dilihatnya pada dirinya. Pada tahap ini salik memperoleh satu hal: ia kini mengukur dirinya dengan perintah Allah, bukan dengan perkataan orang.
4. Nafs al-Muthma’innah (Jiwa yang Tenang)
Muthma’innah berarti “yang tenang, yang tenteram”. Istilah ini diambil dari ayat Al-Quran “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu” (Surah Al-Fajr 89:27-28). Pada tahap ini pertarungan panjang antara keinginan nafsu dan keyakinan hati berakhir. Ketenangan yang tidak bergantung pada keadaan luar menetap di dalam diri. Ketenangan ini tidak berarti bahwa kemungkinan berbuat salah sudah habis sama sekali. Nafs tidak dihancurkan; nafs diluruskan. Salik masih merasakan sakit dan masih merasakan senang, tetapi keduanya tidak lagi menguasainya. Tahap ini mempunyai artikelnya sendiri: Nafs al-Muthma’innah, jiwa yang tenang.
Pada tahap ini salik memandang kesulitan dengan cara lain. Pada tahap-tahap sebelumnya rasa sakit adalah sesuatu yang harus ditahan. Kini salik menyambutnya dengan hati yang lapang, karena ia tahu bahwa kemudahan dan kesulitan sama-sama datang dari Allah. Ibadahnya menjadi zikir yang panjang, tafakur, dan muraqabah. Muraqabah adalah hidup dengan mengetahui bahwa Allah melihatnya; hadis tentang ihsan menggambarkan keadaan ini.
5. Nafs al-Radhiyah (Jiwa yang Ridha)
Radhiyah berarti “yang ridha”. Istilah ini diambil dari kata “dengan ridha” dalam Al-Quran (Surah Al-Fajr 89:28). Pada tahap keempat salik menemukan ketenangan di dalam dirinya. Pada tahap ini ketenangan itu meluas kepada segala yang menimpanya. Keluhan berhenti, dan penolakan batin meleleh. Tasawuf menyebutnya ridha. Ridha adalah menerima dengan hati yang lapang setiap ketetapan Allah, baik yang tampak sebagai kebaikan maupun yang tampak sebagai keburukan, bagi dirinya maupun bagi orang lain. Penerimaan ini bukan sikap putus asa. Tawakal menjadi sempurna di sini; salik tidak lagi memegang kepercayaan kepada Allah hanya sebagai keyakinan, tetapi menjalaninya dalam setiap peristiwa. Orang pada tahap ini tidak bermalas-malasan. Sebaliknya, mereka bekerja dengan lebih tenang dan lebih mantap, karena kecemasan akan hasil tidak lagi melelahkan mereka.
6. Nafs al-Mardhiyyah (Jiwa yang Diridhai)
Mardhiyyah berarti “yang diridhai”. Istilah ini diambil dari kata “dan diridhai” dalam ayat yang sama (Surah Al-Fajr 89:28). Pada tahap kelima salik ridha kepada Tuhannya. Pada tahap keenam Tuhannya ridha kepadanya. Kedua tahap ini sebenarnya tidak dapat dipisahkan, karena seorang hamba tidak dapat ridha kepada Allah sebelum Allah ridha kepadanya. Keduanya dihitung terpisah karena urutan dalam ayat itu. Orang pada tahap ini menjadi sumber kebaikan bagi orang lain tanpa berusaha dan tanpa merencanakan. Berada di dekatnya saja sudah mengubah orang; diamnya mengajar sebanyak bicaranya. Tasawuf menyebut tahap ini wilayah, kedekatan dengan Allah. Apa yang dirasakan orang pada diri mereka disebut barakah.
7. Nafs al-Kamilah (Jiwa yang Paripurna)
Kamilah berarti “yang matang, yang sempurna”. Tahap ini menghimpun semua tahap sebelumnya. Salik hidup di dunia sebagai hamba yang utuh. Ia tertawa, menangis, bekerja, mencinta, dan wafat, dan dalam semua itu hatinya berada di hadapan Allah. Tidak ada yang sia-sia, dan tidak ada yang dilakukan untuk pamer. Tradisi Ibnu Arabi menyebut tahap ini insan al-kamil, manusia paripurna. Teladan tertingginya adalah Nabi. Pada tahap ini tradisi juga menyebut para wali besar seperti Rumi dan Abdul Qadir al-Jailani. Tahap ini tidak diperoleh dengan usaha; tahap ini diberikan dengan karunia Allah. Satu hal perlu diperhatikan di sini: manusia paripurna memantulkan nama-nama Allah sebagai hamba, dan ia tetap menjadi hamba. Dengan kata lain, keadaan manusia yang paling matang adalah juga keadaannya yang paling rendah hati.
Tahapan sebagai Peta yang Hidup
Ilmu tentang tujuh tahapan berguna untuk dua hal. Pertama, tiap tahap mempunyai obatnya sendiri. Disiplin ketat yang menyelamatkan salik pada tahap pertama menyesakkan salik pada tahap keempat, karena salik itu kini membutuhkan kelapangan. Mursyid tidak melihat anggapan salik tentang dirinya sendiri; mursyid melihat tahap yang sebenarnya sedang dijalani salik. Di situlah kemahiran seorang mursyid.
Kedua, ilmu ini menjaga salik dari satu jebakan yang halus. Jebakan itu adalah ibadah yang justru memberi makan nafsu. Amalan yang seharusnya mengecilkan nafsu kadang-kadang membesarkannya. Tradisi menamai tiap tahap dan bahaya tiap tahap, sehingga salik tidak mudah menipu dirinya sendiri. Salik pada tahap kedua dapat mengira dirinya sudah tenang; salik pada tahap ketiga dapat mulai mengagumi dirinya. Bahaya-bahaya ini sudah lama sekali dikenal di jalan ini, dan obat untuk masing-masing sudah jelas.
Kita tutup dengan satu ungkapan yang sering diulang di kalangan sufi: “Barangsiapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.” Para ahli hadis mencatat bahwa ini bukan hadis Nabi, melainkan hikmah yang dinisbatkan kepada Yahya bin Muadz ar-Razi. Menempuh tujuh tahapan, pada akhirnya, adalah berjalan menuju pengenalan diri dan, melalui itu, pengenalan akan Tuhan.
Sumber
- Al-Quran 12:53, 75:2, 89:27-28, 91:7-8
- Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin (c. 1097)
- Al-Qusyairi, Ar-Risalah (c. 1046)
- Najm al-Din Kubra, Fawa’ih al-Jamal (c. 1220)
- Abu Talib al-Makki, Qut al-Qulub (c. 996)
Tag
Artikel Terkait
Apa Itu Nafs? Makna Jiwa dalam Al-Qur'an dan Tasawuf
Apa itu nafs: makna katanya, cara Al-Qur'an memakainya, bedanya dengan ruh, hati dan akal, dan mengapa tasawuf mendidikn...
DasarNafsu Amarah: Jiwa yang Menyuruh kepada Keburukan
Apa itu nafsu amarah? Kedudukannya dalam Al-Quran, tanda-tandanya, bahaya kagum pada diri sendiri, dan obat yang ditunju...
DasarApakah Tasawuf Bagian dari Islam? Kedudukan Tasawuf yang Sebenarnya
Apakah tasawuf bagian dari Islam? Kedudukan tasawuf dalam tradisi: sumber Quraninya, ilmu ihsan, dan para ulama yang men...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Tujuh Tahapan Jiwa (Nafs) dalam Tradisi Sufi.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026 (6 September 2026terakhir diperbarui) . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/tahapan-jiwa