Apakah Tasawuf Bagian dari Islam? Kedudukan Tasawuf yang Sebenarnya
Daftar Isi
Kebanyakan orang berkenalan dengan sufisme lewat pintu samping. Sebait puisi Rumi tiba di kartu ucapan. Para darwis yang berputar melintas dalam film perjalanan. Puisinya bercahaya, musiknya menggetarkan, dan cepat atau lambat pertanyaan itu menyusul: apakah ini sungguh Islam? Ada pecinta puisinya yang berharap jawabannya tidak. Ada pecinta hukumnya yang takut jawabannya tidak. Catatan sejarah memberikan jawaban yang sama kepada keduanya.
Tasawuf, tradisi yang oleh dunia Barat disebut sufisme, tumbuh dari Al-Quran dan amalan Nabi, diemban selama seribu tahun oleh para ulama yang sama yang mengemban hukum Islam, dan memahami dirinya sebagai satu hal saja: dimensi batin Islam. Artikel ini menelusuri bagaimana semua itu berlangsung, abad demi abad.
Dari Mana Nama Itu Berasal
Namanya lebih muda daripada apa yang dinamainya. Pada generasi-generasi pertama sesudah Nabi, tak seorang pun disebut Sufi. Yang ada hanyalah para lelaki dan perempuan yang menanggapi dengan sungguh-sungguh peringatan Al-Quran tentang dunia: mereka makan sedikit, banyak menangis, memeriksa diri tanpa ampun, dan takut berdiri di hadapan Allah dengan hati yang penuh dunia. Hasan al-Basri (w. 728), yang sempat mengenal para Sahabat, adalah teladan besar dari masa awal itu. Kitab-kitab menamai gerakan ini zuhd, kelepasan dari dunia.
Kata sufi muncul kemudian, pada abad ke-8, kemungkinan besar dari suf, wol, merujuk pada jubah wol kasar yang dikenakan para zahid awal sebagai penolakan atas kemewahan. Ada pula usulan asal kata yang lain, dari safa (kemurnian) hingga Ahl ash-Shuffah, para Sahabat miskin yang tinggal di masjid Nabi. Para ulama sendiri memperdebatkan etimologi ini dan tidak menggantungkan banyak hal padanya. Amalannya hadir lebih dulu. Namanya disematkan kemudian.
Ilmu Ihsan
Cara paling jernih untuk menemukan letak tasawuf di dalam Islam adalah sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim secara lengkap dan Bukhari dalam versi yang sangat dekat. Malaikat Jibril datang kepada Nabi dalam rupa seorang lelaki dan mengajukan tiga pertanyaan: apakah islam, apakah iman, apakah ihsan. Untuk pertanyaan ketiga Nabi menjawab: “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihat-Nya; dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”
Keilmuan Islam menata dirinya di sekitar tiga pertanyaan ini. Ilmu fikih mengambil islam: amal lahir, shalat, puasa, perniagaan, pernikahan. Ilmu akidah mengambil iman: apa yang diyakini seorang Muslim tentang Allah, para nabi, dan yang gaib. Dan disiplin yang mengambil ihsan, menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, adalah tasawuf. Pokok bahasannya adalah hati: bagaimana kelalaian disembuhkan, bagaimana keikhlasan dijaga, bagaimana seorang manusia mendekat kepada Allah. Ihsan memiliki artikelnya sendiri di situs ini; tasawuf adalah ilmu yang mengabdi kepadanya.
Dilihat dengan cara ini, pertanyaan “apakah tasawuf bagian dari Islam” nyaris menjawab dirinya sendiri. Tradisi yang dibangun untuk mewujudkan sepertiga dari Hadis Jibril bukanlah tamu di dalam rumah. Ia salah satu ruangannya.
Terikat pada Kitab dan Sunnah
Para guru zaman klasik mengatakannya sendiri, dalam kalimat-kalimat yang tak henti dikutip kitab-kitab pegangan. Junayd al-Baghdadi (w. 910), yang oleh generasi-generasi sesudahnya disebut guru seluruh ilmu ini, diriwayatkan dalam kitab-kitab klasik pernah menegaskan bahwa ilmu ini terikat pada Kitab dan Sunnah, dan bahwa jalan menuju Allah tertutup bagi siapa pun yang tidak mengikuti jejak sang Rasul.
Kalimat itu adalah undang-undang dasar tasawuf yang sadar. Apa pun yang dialami seorang penempuh dalam shalatnya, keadaan apa pun yang turun dalam dzikir, ukurannya tetap wahyu dan teladan Nabi. Ilham yang bertentangan dengan Syariat ditolak, betapapun manis rasanya. Para guru mengulang kaidah ini dalam seratus bentuk, sebab mereka tahu persis di mana bahayanya.
Para Ulama yang Mengembannya
Sejak awal, tasawuf tumbuh di jantung kalangan terpelajar. Kitab-kitab pembentuknya ditulis oleh para ahli fikih dan ahli hadis, dan amalannya mengalir melalui pusat dunia keilmuan.
Al-Muhasibi (w. 857), yang metode pemeriksaan dirinya memberi nama bagi muhasabah, adalah seorang teolog Baghdad. Al-Qusyairi (w. 1072) adalah ahli fikih mazhab Syafi’i sekaligus periwayat hadis; Risalah-nya, salah satu kitab yang paling banyak dibaca dalam tradisi ini, ditulis justru untuk menunjukkan bahwa jalan para Sufi adalah jalan Sunnah, dan untuk meluruskan mereka yang mengklaim sebaliknya. Kitab al-Luma karya as-Sarraj mengerjakan tugas yang sama satu abad lebih awal, lengkap dengan satu bagian yang mendata kekeliruan para pengaku-ngaku.
Lalu ada al-Ghazali (w. 1111), ahli fikih dan teolog paling termasyhur pada zamannya, guru besar di Madrasah Nizamiyyah Baghdad. Dalam otobiografinya, Al-Munqidz min al-Dhalal, ia menuturkan bagaimana ia menelaah setiap cabang ilmu dalam Islam dan menemukan keyakinan yang pasti justru pada para Sufi: jalan mereka, tulisnya, berjalan di atas ilmu dan amal sekaligus, dan akhlak mereka adalah yang paling sehat yang pernah ia saksikan. Ihya Ulumiddin-nya menjalin ilmu batin ke dalam jalinan kehidupan beragama sehari-hari, dan kitab itu diajarkan di madrasah-madrasah hingga kini.
Bahkan pengamat dari luar jalan ini mengatakan hal yang sama. Ibn Khaldun, sang sejarawan besar, membuka bab tentang tasawuf dalam Muqaddimah-nya dengan menggolongkannya di antara ilmu-ilmu Syariat yang lahir di dalam umat, dan dengan mencatat bahwa jalan kaum ini telah menjadi jalan kebenaran dan hidayah sejak generasi-generasi paling awal.
Hukum dan Jalan
Semua ini tidak berarti hubungan keduanya pernah longgar. Tradisi merumuskannya dengan ketelitian yang diulas panjang dalam artikel situs ini tentang Syariat, Tarekat, Hakikat: Hukum adalah akar, jalan adalah perjalanan yang masuk lebih dalam ke dalamnya, dan hakikat di ujung tidak pernah menghapus jalan yang mengantar ke sana. Tarekat yang melepaskan diri dari Syariat, menurut definisi tradisi ini sendiri, telah keluar dari jalan. Bentuk tanpa ruh itu kosong; ruh tanpa bentuk itu tanpa akar.
Karena itulah kehidupan sehari-hari seorang Sufi yang sungguh-sungguh, dilihat dari luar, tampak seperti kehidupan sehari-hari seorang Muslim yang sungguh-sungguh: shalat lima waktu, puasa, menuntut ilmu, kehati-hatian soal rezeki yang halal. Yang ditambahkan jalan ini bersifat batin: tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, yang ditempuh dengan metode dan bimbingan seorang guru.
Penyimpangan dan Pelurusan
Jawaban yang jujur harus menyertakan kegagalan-kegagalannya. Sepanjang empat belas abad ada para ekstatik yang mengucapkan lebih dari yang diizinkan Hukum, ada amalan populer di makam-makam yang tergelincir ke arah takhayul, dan ada para pengaku-ngaku yang memakai kosakata jalan ini untuk lari dari kewajibannya.
Pengecam paling tajam atas penyimpangan-penyimpangan itu adalah para ulama Sufi sendiri. Al-Qusyairi membuka Risalah-nya dengan meratapi para pengaku-ngaku di zamannya sendiri. As-Sarraj menyediakan bab-bab khusus bagi kekeliruan mereka yang salah memahami ahwal, keadaan-keadaan ruhani. Berabad-abad kemudian, Imam Rabbani (w. 1624) menulis ratusan surat yang meluruskan bacaan-bacaan antinomian dari dalam, dengan menegaskan bahwa maqam tertinggi di jalan ini adalah penghambaan di bawah Hukum; pelurusannya diterima justru karena ia berbicara dari dalam, sebagai guru jalan ini sendiri. Tradisi yang menertibkan dirinya segigih ini sedang memperlihatkan kesehatannya, dan memperlihatkan ke mana kesetiaannya berlabuh.
Seribu Tahun di Arus Utama
Selama sebagian besar sejarah Islam, pertanyaan yang dijawab artikel ini justru akan membingungkan para penanyanya. Madrasah dan pondok kaum Sufi berdiri di kampung-kampung yang sama dan sering kali diisi oleh orang-orang yang sama. Di dunia Utsmani, tarekat Halveti saja menghitung para hakim, mufti, dan syaikhul Islam di antara anggotanya. Khatib Jumat dan pemimpin dzikir kerap kali satu orang yang sama.
Anatolia memperlihatkan wujud hidup kesatuan ini. Yunus Emre bersenandung di desa dan hafal pokok-pokok akidah. Mevlana mengajar fikih di madrasah pada siang hari dan menulis Masnavi pada malam hari. Tak ada apa pun di dunia mereka yang mengesankan bahwa cinta kepada Allah dan ketaatan kepada Allah saling bersaing. Kesan itu baru datang di zaman modern, dan seluruh sejarah tradisi ini berbicara menentangnya.
Jawabannya
Jadi: apakah tasawuf bagian dari Islam? Apa Itu Sufisme melukiskan tradisi ini dari dalam; artikel ini menyusuri batas luarnya, dan kedua pandangan itu bersepakat. Tasawuf menimba sumbernya dari Al-Quran dan Sunnah. Para guru pendirinya adalah ulama fikih dan hadis. Tujuan yang menentukannya adalah ihsan dalam Hadis Jibril. Kaidahnya, sejak Junayd dan seterusnya, adalah bahwa tak ada satu hal pun dan tak ada satu maqam pun yang berdiri di atas Syariat.
Dimensi batin sebuah rumah bukanlah rumah kedua. Ia adalah alasan rumah itu dibangun. Siapa pun yang melangkah ke dalam puisi Rumi atau keheningan para darwis sedang melangkah, disadarinya atau tidak, ke bagian dalam Islam. Tradisi ini hanya meminta tamunya memahami di mana ia sedang berdiri, dan pintunya dibiarkan terbuka.
Sumber
- Muslim, Sahih Muslim (hadis Jibril; Bukhari meriwayatkan versi yang sangat dekat)
- Al-Qusyairi, Ar-Risalah al-Qusyairiyyah (c. 1046)
- As-Sarraj, Kitab al-Luma (abad ke-10)
- Al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dhalal (c. 1108) dan Ihya Ulumiddin (c. 1097)
- Ibn Khaldun, Muqaddimah (1377)
- Imam Rabbani, Maktubat (abad ke-17)
Tag
Artikel Terkait
Tujuh Tahapan Jiwa (Nafs) dalam Tradisi Sufi
Tujuh tahapan nafs, peta jiwa dalam tasawuf: dari jiwa yang memerintah hingga jiwa yang tenang, berpijak pada Al-Quran d...
DasarTazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Tasawuf
Tazkiyatun nafs, penyucian jiwa: akarnya dalam Al-Quran, metode dzikir, muhasabah dan sohbet, serta pendakian jiwa menuj...
DasarSyariat, Tarekat, Hakikat: Tiga Dimensi Jalan
Syariat adalah hukum lahir. Tarekat adalah jalan batin. Hakikat adalah kenyataan yang ditunjuk keduanya. Struktur klasik...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Apakah Tasawuf Bagian dari Islam? Kedudukan Tasawuf yang Sebenarnya.” sufiphilosophy.org, 5 Agustus 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/apakah-tasawuf-islami