Nafs al-Muthma'innah: Jiwa yang Tenang
Daftar Isi
Al-Quran menyebut tiga keadaan jiwa dengan namanya: jiwa yang menyuruh kepada keburukan (Surah Yusuf 12:53), jiwa yang mencela dirinya sendiri (Surah Al-Qiyamah 75:2), dan jiwa yang tenang (Surah Al-Fajr 89:27). Keadaan ketiga inilah yang dalam bahasa tasawuf disebut nafs al-muthma’innah. Kata ini berasal dari akar Arab itminan: mereda, menetap, menjadi tenang. Jiwa yang tenang adalah jiwa yang gejolaknya telah berhenti, jiwa yang telah menemukan tempatnya dengan mengikatkan diri kepada Allah.
Artikel ini membahas persinggahan keempat pada peta tujuh tahapan jiwa. Inilah pertengahan jalan. Perjuangan tiga tahap pertama berbuah di sini, dan tiga tahap terakhir bermula dari sini.
Jiwa yang Tenang dalam Al-Quran
Surah Al-Fajr ditutup dengan seruan ini:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (Surah Al-Fajr 89:27-30)
Para mufasir mengatakan bahwa seruan ini akan disampaikan kepada jiwa yang beriman pada saat kematian dan pada hari kiamat. Kaum Sufi tidak menolak pembacaan itu; mereka menambahkan sesuatu padanya. Menurut mereka, panggilan ini juga sampai kepada hamba di dunia ini. Orang yang telah mengembalikan jiwanya kepada Allah mulai mengecap seruan ini tanpa menunggu kematian. Lata’if al-Isharat karya al-Qusyairi adalah salah satu tafsir klasik yang membaca ayat ini dengan cara pandang tersebut.
Urutan ayat ini patut diperhatikan. Pertama tenang (muthma’innah), lalu ridha (radhiyah), lalu diridhai (mardhiyyah). Para guru tasawuf membaca urutan ini sebagai tahap keempat, kelima, dan keenam jiwa. Peta itu lahir dari kata-kata Al-Quran sendiri.
Al-Quran juga memberi tahu dari mana ketenangan itu datang:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Surah Ar-Ra’d 13:28)
Ayat ini adalah kunci jiwa yang tenang. Ketenangan tidak datang dari membaiknya keadaan lahir; ia adalah buah zikir. Hati menetap dengan mengingat Allah, dan jiwa mengikuti hati.
Al-Quran juga memperlihatkan itminan pada diri Nabi Ibrahim. Beliau meminta diperlihatkan bagaimana orang mati dihidupkan kembali. Ketika ditanya “Apakah engkau belum percaya?”, beliau menjawab: “Aku percaya, tetapi agar hatiku tenteram” (Surah Al-Baqarah 2:260). Itminan bukanlah kekurangan iman. Ia adalah iman yang menetap sepenuhnya di dalam hati, berakhirnya keraguan dan kegelisahan.
Apa Itu Jiwa yang Tenang
Jiwa yang memerintah menginginkan yang buruk dan mengikuti keinginannya. Jiwa yang mencela masih menginginkan yang buruk, tetapi kemudian menyalahkan dirinya; ia jatuh, bangun, dan bertobat. Jiwa yang terilhami menerima ilham yang membedakan benar dari salah, tetapi masih goyah; ia menginginkan yang baik dan masih condong kepada yang buruk.
Pada jiwa yang tenang, gejolak ini berhenti. Keinginan buruk tidak lenyap; manusia tetaplah manusia. Tetapi keinginan itu tidak lagi memegang kendali. Jiwa telah tunduk di bawah perintah hati, dan hati terikat kepada Allah. Dalam sebuah gambaran yang sering dipakai para guru, kuda tidak lagi menyeret penunggangnya; penunggang yang mengendalikan kuda.
Ketenangan di sini bukanlah apa yang oleh dunia disebut kenyamanan. Jiwa yang tenang masih bersedih, lelah, jatuh sakit, dan kehilangan orang yang dicintainya. Ketika Nabi kehilangan putranya, Ibrahim, beliau menangis dan bersabda: “Mata menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengucapkan apa pun kecuali yang diridhai Tuhan kami” (Bukhari, Jana’iz 43). Itulah jiwa yang tenang. Ada kesedihan, tetapi tidak ada pemberontakan. Ada ombak, tetapi laut tidak beranjak dari tempatnya.
Tiga hal menjadi ukuran tahap ini:
- Keraguan telah berakhir. Iman telah menetap di dalam hati, dan suara “bagaimana kalau” telah diam.
- Takut dan tamak telah berakhir. Rezeki, masa depan, dan omongan orang tidak lagi mengguncang hati.
- Ibadah telah menjadi ringan. Ia bukan lagi beban, melainkan keinginan jiwa itu sendiri.
Tanda-Tandanya
Para guru mengenali tahap seseorang bukan dari kata-katanya, melainkan dari keadaannya. Tanda-tanda jiwa yang tenang adalah sebagai berikut.
Berkurangnya keluhan. Jiwa yang tenang tahu bahwa apa pun yang datang, datangnya dari Allah, dan menyambutnya dengan hati yang lapang. Ini bukan kemalasan. Ia tetap berikhtiar dan bekerja; hanya saja ia tidak membiarkan hasilnya mengusik hati. Tawakal menjadi hal yang wajar pada tahap ini.
Manisnya zikir. Pada tahap-tahap sebelumnya zikir adalah kewajiban, dan jiwa ingin lari darinya. Pada jiwa yang tenang, zikir menjadi makanan jiwa. Sang hamba merasa lapar ketika tidak mengingat Allah.
Damai dengan sesama. Dendam, iri, dan persaingan menyingkir dari hati. Jiwa yang tenang tidak bersaing dengan siapa pun, karena ia tahu bahwa Allah telah membagi segala sesuatu. Husnuzan, berbaik sangka kepada sesama, adalah cara pandangnya yang wajar.
Yang tersembunyi dan yang tampak menjadi satu. Orang itu sama ketika sendirian dan ketika bersama orang lain. Pergulatan dengan riya belum selesai, tetapi riya tidak lagi berkuasa.
Keteguhan. Persoalan besar jiwa yang terilhami adalah naik turunnya: hari ini menggebu, esok dingin. Pada jiwa yang tenang, ayunan ini mereda. Hal telah menjadi maqam; bukan perasaan yang lewat, melainkan sifat yang menetap. Pembedaan antara hal dan maqam memperoleh makna penuhnya di sini.
Jalan Menuju ke Sana
Jiwa yang tenang tidak datang dalam sekejap; ia diusahakan. Tradisi telah menggambar jalannya dengan jelas.
Zikir. Sebagaimana dikatakan Surah Ar-Ra’d, yang menenteramkan hati adalah mengingat Allah. Zikir bermula di lisan, turun ke hati, dan akhirnya menyebar ke seluruh diri. Inilah urat nadi utama jalan menuju ketenangan.
Berpegang pada kewajiban dan Sunnah. Dalam tasawuf tidak ada tahap yang berada di atas Syariat. Shalat, puasa, makanan yang halal, dan menjauhi yang haram adalah dasar pendidikan jiwa. Sebagaimana dicatat al-Qusyairi dalam Risalah-nya, Junaid al-Baghdadi biasa berkata: “Ilmu kami ini terikat pada Al-Kitab dan Sunnah.” Jiwa yang tenang bukanlah jiwa yang terbebas dari ikatan itu, melainkan jiwa yang telah menetap sepenuhnya di dalamnya.
Muhasabah dan tobat. Celaan diri pada tahap kedua tidak sia-sia. Sang hamba menghitung dirinya setiap hari, melihat kekurangannya, dan bertobat. Pengulangan ini perlahan melunakkan jiwa. Muhasabah terus berlangsung pada jiwa yang tenang, tetapi ia bukan lagi tuduhan; ia adalah perawatan.
Kebersamaan dan pembimbing. Tasawuf Anatolia tidak menganjurkan berjalan sendirian di jalan ini. Berada di dekat seorang guru dan bergabung dalam majelis sohbet membuat jiwa lebih sulit menipu dirinya sendiri. Orang cenderung memandang tahapnya lebih tinggi daripada yang sebenarnya; pembimbing meluruskan anggapan keliru itu.
Rida. Tahap setelah ketenangan adalah radhiyah: ridha kepada Allah. Tetapi benih rida itu ditanam di sini. Sang hamba tahu bahwa sisi pahit takdir dan sisi manisnya datang dari sumber yang sama. Bait Ibrahim Hakki dari Erzurum, “Mari kita lihat apa yang Tuhan perbuat; apa pun yang Dia perbuat, Dia perbuat dengan indah,” adalah ungkapan Anatolia yang paling dikenal untuk keadaan ini, dan Tefviznâme karyanya adalah keadaan itu yang dituangkan dalam syair dari awal hingga akhir.
Dalam sebuah doa yang tercatat dalam kitab-kitab hadis, Nabi memohon: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenteram kepada-Mu, yang beriman akan perjumpaan dengan-Mu, yang ridha dengan ketetapan-Mu, dan yang merasa cukup dengan pemberian-Mu” (ath-Thabarani, al-Mu’jam al-Saghir). Doa ini menghimpun semua unsur jiwa yang tenang dalam satu kalimat: iman, rida, qanaah.
Jiwa yang Tenang dalam Tasawuf Anatolia
Di Anatolia, tahapan-tahapan jiwa menjadi tulang punggung kurikulum suluk tarekat-tarekat, terutama Tarekat Halveti. Para guru Halveti memasangkan tujuh tahapan dengan tujuh nama ilahi (esma-i seb’a). Dalam susunan itu, zikir jiwa yang tenang adalah nama al-Haqq, Yang Mahabenar. Maknanya jelas: jiwa menjadi tenang dengan mengingat Al-Haqq dan bersandar kepada Al-Haqq.
Bait-bait Yunus Emre berikut adalah suara jiwa yang tenang:
Aku tak bergembira karena memiliki Tak pula bersedih karena tak memiliki Cinta-Mu adalah penghiburanku Engkaulah yang kubutuhkan, hanya Engkau
Di sini memiliki dan tidak memiliki, kaya dan miskin, tidak mengguncang hati. Jiwa telah mengikatkan diri pada satu hal; selebihnya datang dan pergi. Yunus mengucapkannya bukan dengan bahasa keilmuan, melainkan dengan bahasa rakyat. Itulah ciri tasawuf Anatolia: berbicara tentang maqam-maqam yang dalam dengan kata-kata yang dapat dipahami semua orang.
Seruling Rumi pun meratapi perihnya terpisah dari rumpun buluh, dan para pensyarah membaca ratapan itu sebagai kerinduan untuk kembali ke asalnya. Nyanyian Buluh adalah syair kerinduan itu. Seruan dalam Surah Al-Fajr, “Kembalilah kepada Tuhanmu,” adalah jawaban baginya.
Bukan Akhir Jalan, melainkan Pertengahannya
Dua bahaya menanti orang yang mencapai jiwa yang tenang.
Yang pertama adalah berhenti. Ketenangan itu manis, dan orang ingin tinggal di sana. Tetapi peta masih menghitung tiga tahap lagi: radhiyah, mardhiyyah, kamilah. Jiwa yang tenang bukanlah tempat beristirahat, melainkan persinggahan di tengah jalan.
Yang kedua adalah mengira diri sudah sampai di sana. Orang yang menemukan sedikit ketenangan batin bisa menyangka telah mencapai jiwa yang tenang. Tradisi mengenal jebakan ini dengan baik. Penyakit paling halus dari jiwa yang terilhami adalah ujub, kekaguman pada diri sendiri. Orang yang menilai keadaannya sendiri biasanya keliru. Karena itu para guru menghendaki agar tahap itu diukur bukan oleh sang hamba, melainkan oleh orang yang mengenalnya dari dekat.
Pada akhirnya, jiwa yang tenang juga sebuah anugerah. Sang hamba berusaha, berzikir, dan bertobat; tetapi yang memberi ketenangan adalah Allah. Seruan dalam Surah Al-Fajr adalah perintah sekaligus undangan: “Kembalilah kepada Tuhanmu.” Seluruh perjalanan jiwa adalah jawaban atas undangan itu.
Sumber
- Al-Quran, Al-Fajr 89:27-30; Ar-Ra’d 13:28; Yusuf 12:53; Al-Qiyamah 75:2; Al-Baqarah 2:260; Asy-Syams 91:7-10
- Al-Bukhari, al-Jami’ al-Sahih, Jana’iz 43
- Ath-Thabarani, al-Mu’jam al-Saghir (doa untuk jiwa yang tenang)
- Al-Qusyairi, al-Risala (c. 1046) dan Lata’if al-Isharat
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, “Kitab Sharh ‘Aja’ib al-Qalb”
- Süleyman Uludağ, “Nefis”, TDV İslâm Ansiklopedisi, vol. 32, 2006
- Yunus Emre, Divan
Tag
Artikel Terkait
Tazkiyatun Nafs: Penyucian Jiwa dalam Tasawuf
Tazkiyatun nafs, penyucian jiwa: akarnya dalam Al-Quran, metode dzikir, muhasabah dan sohbet, serta pendakian jiwa menuj...
DasarTujuh Tahapan Jiwa (Nafs) dalam Tradisi Sufi
Tujuh tahapan nafs, peta jiwa dalam tasawuf: dari jiwa yang memerintah hingga jiwa yang tenang, berpijak pada Al-Quran d...
DasarApa Itu Tarekat, dan Perlukah Seorang Mursyid?
Apa sebenarnya tarekat, mengapa tradisi sufi menekankan bimbingan guru, apa batas seorang syekh, dan jawaban jujur atas...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Nafs al-Muthma'innah: Jiwa yang Tenang.” sufiphilosophy.org, 3 September 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/nafs-al-mutmainnah