Skip to content
Guru

Rumi: Penyair Cinta Universal

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 6 menit baca

Jalaluddin Muhammad Balkhi, yang dikenal di dunia Barat sebagai Rumi dan di dunia Islam sebagai Mevlana (“Tuan Kami”), adalah salah satu penyair dan pemikir paling berpengaruh dalam sejarah umat manusia. Lahir pada tahun 1207 di Balkh (Afghanistan modern) dan wafat pada tahun 1273 di Konya (Turki modern), ia meninggalkan warisan sastra dan spiritual yang masih menggerakkan jutaan orang di seluruh dunia, tujuh setengah abad setelah kematiannya.

Seorang Ulama, Bukan Hanya Penyair

Kesalahpahaman paling umum tentang Rumi adalah menganggapnya semata-mata sebagai penyair cinta romantis atau filsuf spiritual yang lepas dari konteks agama. Ini sepenuhnya keliru.

Rumi adalah seorang ulama Islam yang sangat terdidik. Ayahnya, Bahauddin Walad, adalah seorang teolog dan pengkhotbah terkemuka. Rumi sendiri mengikuti jejak ayahnya sebagai guru agama dan pemimpin majelis ilmu di Konya. Ia menguasai fikih Hanafi, tafsir Al-Quran, hadits, dan teologi kalam. Sebelum pertemuannya dengan Syams-i Tabrizi, ia sudah dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka di kota itu.

Yang berubah setelah pertemuannya dengan Syams bukanlah keimanannya, melainkan kedalaman pengalamannya. Api yang sudah ada dinyalakan hingga menjadi kobaran. Rumi tidak meninggalkan Islam; ia menyelam lebih dalam ke dalamnya.

Pertemuan dengan Syams-i Tabrizi

Pertemuan antara Rumi dan Syams-i Tabrizi pada tahun 1244 adalah salah satu momen paling transformatif dalam sejarah spiritual manusia. Syams adalah seorang darwis pengembara yang mencari seseorang yang mampu “menahan api”-nya. Dalam Rumi, ia menemukan seseorang yang pengetahuannya sudah lengkap tetapi hatinya masih haus akan pengalaman langsung.

Pertemuan mereka mengubah segalanya. Rumi, sang profesor yang terhormat, berubah menjadi penyair yang terbakar. Ia mulai menulis syair dengan kecepatan dan intensitas yang luar biasa, sering dalam keadaan ecstasy yang melampaui nalar biasa.

Ketika Syams menghilang secara misterius (kemungkinan besar dibunuh oleh murid-murid Rumi yang cemburu), Rumi mengalami kehilangan yang menghancurkan. Tetapi dari kehancuran itu lahirlah karya-karya terbesar sastra mistis Islam: Diwan-i Syams-i Tabrizi dan Masnawi-i Ma’nawi.

Masnawi: Al-Quran dalam Bahasa Persia

Masnawi adalah karya utama Rumi: enam jilid syair didaktik yang berisi lebih dari 25.000 bait. Disebut oleh Jami sebagai “Al-Quran dalam bahasa Persia” (bukan karena statusnya setara, melainkan karena ia berfungsi sebagai tafsir spiritual atas pesan-pesan Al-Quran), Masnawi adalah ensiklopedia kebijaksanaan Sufi yang disampaikan melalui cerita, alegori, dan syair.

Metode pengajaran Rumi dalam Masnawi sangat khas. Ia memulai sebuah cerita, lalu menyisipkan cerita lain di dalamnya, lalu komentar teologis, lalu ayat Al-Quran, lalu kembali ke cerita pertama. Ini bukan kekacauan naratif; ini adalah metode yang disengaja. Pikiran rasional yang mencoba mengikuti “alur” secara linier akan frustrasi, dan dalam frustrasi itulah ia menyerah dan membiarkan hati yang menyerap.

Di Indonesia, Masnawi telah dibaca di pesantren-pesantren tertentu selama berabad-abad, meskipun biasanya melalui terjemahan dan syarah dalam bahasa Arab atau Melayu. Beberapa cerita Masnawi, seperti kisah Musa dan Gembala dan Gajah dalam Kegelapan, telah menjadi bagian dari khazanah cerita yang dikenal luas.

Nyanyian Buluh

Masnawi dibuka dengan salah satu syair paling terkenal dalam seluruh sastra dunia:

“Dengarkanlah buluh ini, bagaimana ia bercerita, ia mengadukan tentang perpisahan.”

Buluh (ney) yang dicabut dari rumpunnya adalah metafora untuk jiwa manusia yang terpisah dari asalnya. Rindu yang dirasakan buluh, yang tampak dalam suaranya yang memilukan, adalah rindu yang sama yang dirasakan setiap jiwa: rindu untuk kembali kepada Allah.

Metafora ini bukan sekadar puitis. Ia menangkap inti psikologi Sufi: bahwa ketidakpuasan manusia yang mendalam, kegelisahan eksistensial yang tidak dapat dipadamkan oleh kekayaan, status, atau kesenangan, adalah gejala dari kerinduan spiritual yang hanya bisa dipuaskan oleh kedekatan dengan Tuhan.

Cinta sebagai Prinsip Kosmis

Bagi Rumi, cinta (isyq) bukanlah emosi romantis. Ia adalah kekuatan kosmis yang menggerakkan segalanya. Atom berputar karena cinta. Planet mengorbit karena cinta. Biji tumbuh menembus tanah karena cinta. Dan manusia mencari Tuhan karena cinta.

“Cinta adalah lautan tanpa tepi. Di sana langit hanyalah percikan buih.”

Tetapi cinta dalam pengertian Rumi selalu terarah: ia mengalir dari ciptaan menuju Pencipta. Cinta kepada manusia, kepada keindahan alam, kepada seni, semuanya sah selama ia berfungsi sebagai tangga menuju cinta kepada Allah, bukan sebagai penggantinya.

Tarekat Mevlevi

Setelah wafat Rumi, putranya Sultan Walad dan murid-muridnya mendirikan Tarekat Mevlevi, yang dikenal dengan ritual sema (tarian berputar). Sema bukanlah pertunjukan seni atau hiburan. Ia adalah ibadah: sebuah bentuk dzikir yang melibatkan seluruh tubuh dalam pengingatan akan Allah.

Dalam sema, darwis berputar dengan tangan kanan terangkat ke langit (menerima rahmat) dan tangan kiri menunduk ke bumi (menyalurkan rahmat). Topi tinggi (sikke) melambangkan batu nisan ego. Jubah putih melambangkan kain kafan. Sema adalah kematian simbolis dari ego dan kebangkitan dalam kesadaran ilahi.

Tarekat Mevlevi menjadi salah satu institusi budaya dan spiritual terpenting dalam peradaban Ottoman, menghasilkan musisi, kaligrafer, dan penyair-penyair besar selama lebih dari enam abad.

Rumi dan Bukan Relativisme

Salah satu kesalahpahaman modern yang paling merusak tentang Rumi adalah menganggapnya sebagai seorang relativis agama, seseorang yang percaya bahwa semua agama pada dasarnya sama dan bahwa bentuk (termasuk Syariat) tidak penting.

Ini bertentangan dengan catatan sejarah. Rumi shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, mengajarkan Al-Quran, dan hidup sebagai seorang Muslim yang taat hingga akhir hayatnya. Pandangannya yang luas tentang hikmah universal, bahwa Allah mengutus pembimbing kepada setiap umat, tidak pernah membuatnya meninggalkan komitmennya terhadap Islam.

Ketika Rumi menulis, “Datanglah, siapa pun kau,” ia mengundang orang untuk menempuh jalan transformasi, bukan untuk tetap di tempatnya. Pintu terbuka, tetapi ada jalan di balik pintu itu, dan jalan itu memiliki disiplin, adab, dan struktur.

Warisan yang Hidup

Rumi wafat pada 17 Desember 1273 di Konya. Hari wafatnya disebut Shab-i Arus (Malam Pernikahan), karena ia memandang kematian sebagai pertemuan kembali jiwa dengan Kekasih Sejatinya.

Pengaruhnya melampaui batas-batas geografi, bahasa, dan zaman. Puisinya telah diterjemahkan ke dalam hampir setiap bahasa di dunia. Tarekat Mevlevi masih aktif di Turki dan di berbagai negara. Dan pesan-pesannya tentang cinta, kerendahan hati, dan pencarian diri terus menyentuh jutaan orang.

Di Indonesia, Rumi mungkin paling dikenal melalui kutipan-kutipan puisinya yang beredar di media sosial. Tetapi di balik kutipan-kutipan itu ada kedalaman yang luar biasa: seorang ulama yang juga seorang kekasih, seorang sarjana yang juga seorang penyair, seorang guru yang mengajarkan bahwa jalan menuju Tuhan melewati hati yang hancur.

Sumber

  • Jalaluddin Rumi, Masnawi-i Ma’nawi (c. 1258-1273)
  • Jalaluddin Rumi, Diwan-i Syams-i Tabrizi (c. 1244-1273)
  • Jalaluddin Rumi, Fihi Ma Fihi (c. 1260-an)
  • Aflaki, Manaqib al-Arifin (c. 1353)
  • Sultan Walad, Ibtida-namah (c. 1291)

Tag

rumi mevlana puisi konya cinta masnawi sema

Kutip Artikel Ini

Raşit Akgül. “Rumi: Penyair Cinta Universal.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026. https://sufiphilosophy.org/id/guru/rumi.html