Mencintai Ciptaan demi Sang Pencipta
Daftar Isi
Tasawuf merangkum seluruh cara hidup dalam satu baris. Yunus Emre, penyair besar Anatolia, mengucapkannya tujuh ratus tahun yang lalu:
Kami mencintai ciptaan demi Sang Pencipta.
Kata-kata ini dikenang di seluruh dunia berbahasa Turki dan dinisbatkan kepada Yunus Emre. Sekilas terdengar sederhana. Namun inilah salah satu hal terdalam yang diajarkan tradisi ini tentang bagaimana memperlakukan sesama manusia, dan setiap makhluk yang hidup.
Cinta yang Bermula pada Allah
Perhatikan urutannya. Kita tidak mencintai ciptaan lebih dahulu lalu sampai kepada Allah kemudian. Kita mencintai Allah, lalu kita mencintai segala sesuatu karena ia milik-Nya.
Sepucuk surat menjadi berharga bagimu karena orang yang menulisnya. Gambar seorang anak menjadi berharga karena anak itu. Begitu pula setiap makhluk layak dicintai karena ia berasal dari Allah dan membawa jejak diri-Nya. Cinta itu tidak berhenti pada makhluk. Ia menembus makhluk menuju Penciptanya.
Itulah sebabnya cinta ini begitu luas. Ia tidak bertanya lebih dahulu apakah seseorang berguna bagimu, atau sependapat denganmu, atau termasuk golonganmu. Ia bermula dari tempat yang lain: yang ini pun milik Allah. Lihat Isyq, cinta yang berada di pusat jalan ini.
Bukan Penyembahan terhadap Ciptaan
Hal ini harus dikatakan dengan jelas, karena mudah disalahpahami. Mencintai ciptaan demi Allah bukan berarti menyembah ciptaan. Makhluk bukanlah Allah. Jejak bukanlah Dia yang meninggalkan jejak itu. Lihat Tauhid.
Tasawuf menjaga garis ini tetap tegas. Allah adalah Sang Pencipta. Segala selain Dia adalah ciptaan. Kita mencintai apa yang Dia ciptakan sebagaimana engkau mencintai sebuah hadiah karena pemberinya, tanpa pernah menyangka hadiah itu sebagai si pemberi. Cinta kepada makhluk itu nyata, tetapi ia bersandar pada cinta kepada Allah. Cabutlah Allah darinya, dan ia kehilangan akarnya.
Rahmat, Bukan Persetujuan
“Kami mencintai ciptaan” tidak berarti kita menyebut segala sesuatu itu baik. Rahmat tidaklah sama dengan persetujuan.
Engkau bisa mencintai seseorang dan tetap berduka atas apa yang ia perbuat. Nabi, semoga damai atasnya, diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam (Al-Qur’an 21:107). Rahmatnya tidak menghapus kebenaran. Rahmatnya justru membawa kebenaran dengan lembut. Mencintai demi Allah berarti menginginkan kebaikan bagi orang lain, enggan menyakiti, dan mudah memaafkan. Ia bukan berarti berpura-pura bahwa setiap jalan itu sama. Yunus juga mengingatkan betapa besar dosanya melukai satu hati manusia; lihat Jika Kau Telah Mematahkan Sebuah Hati.
Pintu Itu Lebar
Inilah hati yang merangkul dari tasawuf Anatolia, dari Yunus Emre hingga Hacı Bektaş Velî. Jangan menyimpan kebencian. Jangan melukai siapa pun, bahkan ketika engkau dilukai. Lihatlah pada setiap wajah seorang makhluk Allah.
Nabi bersabda, “Yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang. Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Dia yang di atas langit akan menyayangimu” (Tirmidzi, Abu Dawud). Dan, “Tidaklah seorang dari kalian benar-benar beriman hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri” (Bukhari, Muslim).
Ini bukan kelemahan, dan ini bukan pengaburan antara yang benar dan yang salah. Ini adalah kekuatan yang diarahkan kepada rahmat. Hanya hati yang kuat yang mampu bersikap lembut.
Mengapa Ia Menjangkau Semua Orang
Ajaran seperti ini bukan milik satu abad dan bukan milik satu bangsa. Setiap manusia mengenal beda antara hati yang keras dan hati yang lembut. Setiap orang pernah menerima rahmat yang tidak ia usahakan. Kenangan itulah pintunya.
Tasawuf hanya menambahkan akarnya. Rahmat yang engkau rasakan adalah gema kecil dari Rahmat yang jauh lebih besar. Ketika engkau mencintai sebuah makhluk demi Penciptanya, engkau tidak sedang menciptakan cinta. Engkau sedang mengembalikannya kepada sumbernya.
Yunus mengucapkannya sekali, dan kata-kata itu tak pernah usang. Kami mencintai ciptaan, demi Dia yang menciptakannya.
Sumber
- Al-Qur’an, 21:107.
- At-Tirmidzi dan Abu Dawud (yang penyayang akan disayangi oleh Yang Maha Penyayang).
- Al-Bukhari dan Muslim (tidaklah seseorang benar-benar beriman hingga ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri).
- Baris ini dinisbatkan kepada Yunus Emre (w. sekitar 1320), penyair pelopor tasawuf Anatolia.
Tag
Artikel Terkait
Panas Ada pada Api
Sebait syair Anatolia tentang di mana pencari menemukan yang dicarinya: bukan pada tanda lahir atau tempat jauh, melaink...
DasarNama-Nama Indah Allah: Al-Asma al-Husna
Sembilan puluh sembilan nama indah Allah, al-asma al-husna, adalah cara Allah memperkenalkan diri dan tangga bagi jiwa u...
DasarIsyq: Cinta Ilahi di Jantung Sufisme
Isyq, cinta yang menggelora antara Tuhan dan hati, adalah realitas sentral filsafat Sufi, dari Rabi'ah hingga Rumi.
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Mencintai Ciptaan demi Sang Pencipta.” sufiphilosophy.org, 24 Juni 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/dasar/mencintai-demi-pencipta