Ikutilah Sunnah, Jangan Berbuat Bid'ah: Majelis Pertama al-Jilani
Diperbarui: 4 September 2026
Daftar Isi
Nasihat di halaman ini adalah terjemahan yang dekat dengan kata-kata pembuka majelis pertama al-Fath al-Rabbani, diringkas di beberapa tempat supaya enak dibaca.
Ceramah-ceramah Abd al-Qadir al-Jilani mulai dicatat di Baghdad pada tahun 1150 oleh orang-orang yang datang mendengarkannya. Enam puluh dua majelis itu kemudian dihimpun menjadi sebuah kitab bernama al-Fath al-Rabbani, “Pembukaan dari Sang Rabb”. Yang Anda temui ketika membuka kitab ini bukan sebuah karya ilmiah, melainkan suara seorang penceramah di mimbar, karena kata-katanya dicatat hampir persis seperti ketika diucapkan.
Majelis pertama dibuka dengan perintah-perintah pendek. Setiap perintah terdiri dari dua bagian; mula-mula ia mengatakan apa yang harus dilakukan, lalu segera menambahkan apa yang tidak boleh dilakukan, supaya pendengarnya diarahkan ke jalan yang benar. Sebenarnya seluruh inti tarekat Qadiri boleh jadi ada di baris-baris pembuka ini.
Nasihat
Ikutilah Sunnah, jangan berbuat bid’ah.
Taatlah, jangan menyimpang.
Esakanlah Allah, jangan menyekutukan-Nya.
Sucikanlah Allah dari segala cela, jangan menyalahkan-Nya.
Yakinlah, jangan ragu.
Bersabarlah, jangan mengeluh.
Bertahanlah di tempatmu, jangan lari.
Mintalah kepada-Nya, jangan bosan meminta.
Nantikanlah kelapangan, jangan putus asa.
Berkumpullah untuk berzikir kepada Allah, jangan bercerai-berai.
Saling mencintailah, jangan menyimpan dendam.
Sunnah Lebih Dulu
Perhatikan bahwa sebelum berbicara tentang hal dan maqam, al-Jilani lebih dulu mengatakan dua hal: ikuti Sunnah dan esakan Allah. Kita bisa menganggapnya sebagai titik berangkat jalan ini, karena menurutnya tidak ada jalan lain di luar jalan Nabi, sebagaimana tidak ada pintu yang terbuka lewat maksiat. Siapa pun yang bertanya-tanya di mana tasawuf berdiri di dalam Islam akan menemukan jawabannya tersembunyi di baris pertama ini.
Urutan perintahnya pun sebuah pelajaran tersendiri. Bid’ah disebut lebih dulu, lalu menyimpang, dan baru di ujung, menyekutukan Allah. Urutan ini seolah menceritakan bagaimana sebuah hati tersesat; mula-mula ada tambahan kecil pada agama, kemudian satu langkah keluar dari jalan, dan di ujung jalan itu orang mendapati dirinya sudah terikat pada sesuatu yang sama sekali lain. Karena itulah al-Jilani memilih menutup pintunya sejak langkah pertama.
Jangan Menyalahkan Allah
Perintah-perintah di tengah berbicara tentang derita, karena hidup orang-orang yang mendengarkan al-Jilani juga penuh kesulitan. “Sucikanlah Allah dari segala cela, jangan menyalahkan-Nya” mengingatkan pada apa yang oleh tradisi disebut husnuzan, yaitu berbaik sangka kepada Allah. Orang yang kehilangan orang dekat, atau yang usahanya bangkrut, mencari seseorang untuk disalahkan; Anda pasti pernah memperhatikannya sendiri, pencarian itu kadang naik sampai kepada Allah tanpa disadari orangnya. Al-Jilani ingin memutus bisikan itu sebelum sempat mulai.
Sabar, bertahan, meminta, dan berharap adalah empat perintah yang saling melengkapi. Di sini hamba tidak disuruh untuk tidak merasakan apa-apa; ia diberi tahu di mana harus berdiri selagi merasakannya. Jadi yang diminta darinya adalah bertahan di tempatnya dan percaya bahwa kelapangan cepat atau lambat akan datang, dan sementara itu tidak malu untuk meminta. Menurut saya inilah bagian yang paling berguna dari seluruh majelis ini, karena masalah kita yang sebenarnya, seperti para pendengar al-Jilani, bukan tidak bisa menghilangkan derita, melainkan tidak tahu bagaimana harus berdiri di dalamnya. Dalam sekolah ini, berserah diri bukanlah roboh, melainkan belajar tetap berdiri.
Berkumpullah, Saling Mencintailah
Lalu mengapa nasihat ini tidak berhenti pada satu orang saja? Menjelang akhir, al-Jilani meninggalkan dunia batin seseorang dan berpaling kepada jamaah. Perintah-perintah sebelumnya ditujukan kepada setiap orang satu per satu, tetapi mengingat Allah, zikir, diperintahkan dalam bentuk jamak: berkumpullah untuk berzikir kepada Allah, jangan bercerai-berai. Dan perintah terakhir adalah yang paling sederhana dari semuanya, dan mungkin yang paling berat: saling mencintailah, jangan menyimpan dendam.
Bukan kebetulan kalau majelis yang dibuka dengan Sunnah ditutup dengan cinta sesama saudara. Dalam pemahaman al-Jilani, berjalan di jalan yang benar melunakkan hati seseorang, dan hati yang sudah lunak mulai mencintai saudaranya. Dengan kata lain, mengikuti Sunnah dan mencintai manusia bukan dua hal yang terpisah; keduanya adalah awal dan akhir dari jalan yang sama.
Mengapa Suara Ini Masih Sampai
Kalau baris-baris ini masih terbaca seolah diucapkan kepada Anda, sembilan ratus tahun kemudian, sebabnya adalah al-Jilani tidak pernah berbicara di atas kepala siapa pun. Ia memakai perintah pendek dan kata-kata sederhana, dan tidak merasa perlu berhias. Dari situlah kekuatan kitab ini berasal. Karena itu beberapa baris dari sebuah mimbar di Baghdad sampai hari ini masih cukup untuk menata hari seseorang (cobalah: pilih satu di pagi hari dan bawa sampai malam).
Sumber
- Abd al-Qadir al-Jilani, al-Fath al-Rabbani wa’l-Fayd al-Rahmani (62 majelis, disampaikan di Baghdad, 545-546 H / 1150-1152 M; bagian di atas menerjemahkan pembukaan majelis pertama)
- Untuk pembanding dalam bahasa Inggris: Muhtar Holland (terj.), The Sublime Revelation (1992)
Tag
Artikel Terkait
Asma yang Diajarkan Syekh Alaeddin kepada Seyyid Harun Veli di Bagdad
Asma yang tercatat dalam Makalat Seyyid Harun: empat puluh hari khalwat, jubah dan tongkat, bacaan harian, makanan halal...
Hikmah HarianIkhlas: Ketulusan yang Menyucikan Setiap Amal
Ikhlas, kualitas melakukan setiap amal murni karena Allah, adalah obat bagi riya. Eksplorasi berdasarkan al-Fath al-Rabb...
Hikmah HarianAdab: Seni Perilaku yang Benar
Adab, seni perilaku yang benar dalam tradisi Sufi, adalah fondasi seluruh jalan spiritual. Tanpa adab, tidak ada pencapa...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Ikutilah Sunnah, Jangan Berbuat Bid'ah: Majelis Pertama al-Jilani.” sufiphilosophy.org, 6 Agustus 2026 (4 September 2026terakhir diperbarui) . https://sufiphilosophy.org/id/hikmah-harian/ikutilah-jangan-berbuat-bidah