Lewati ke konten
Hikmah Harian

Ikutilah, Jangan Berbuat Bidah: Wacana Pertama al-Fath al-Rabbani

Oleh Raşit Akgül 6 Agustus 2026 4 menit baca

Bacaan di halaman ini adalah penyajian yang dekat dengan nasihat pembuka wacana pertama al-Fath al-Rabbani, sedikit diringkas agar mengalir lancar. Halaman-halaman al-Fath lain di situs ini menyuling ajaran Jilani dengan gayanya sendiri; halaman ini tetap dekat dengan teks yang diriwayatkan itu sendiri.

Di Baghdad, pada tahun 545 Hijriah (1150 M), para pendengar mulai mencatat wacana-wacana publik Abd al-Qadir al-Jilani. Enam puluh dua sesi ini kemudian dihimpun menjadi sebuah kitab dan diberi judul al-Fath al-Rabbani, “Pembukaan dari Sang Rabb.” Ia bukan risalah. Ia adalah suara hidup seorang pengkhotbah, dicatat hampir persis seperti yang diucapkan.

Wacana pertama itu sendiri dibuka dengan rangkaian perintah berpasangan. Setiap pasangan menamai satu langkah di jalan itu dan, di sampingnya, cara langkah itu bisa hilang. Segala sesuatu yang kelak menjadi tarekat Qadiri sudah tersimpan dalam baris-baris ini.

Nasihat Itu

Ikutilah, dan jangan berbuat bidah.

Taatlah, dan jangan menyimpang.

Tegaskan keesaan-Nya, dan jangan sekutukan sesuatu dengan-Nya.

Nyatakan Yang Hak bebas dari segala cela, dan jangan tuduh Dia.

Yakinilah kebenaran-Nya, dan jangan ragu.

Bersabarlah, dan jangan berputus asa.

Berdirilah teguh, dan jangan lari.

Mintalah kepada-Nya, dan jangan jemu meminta.

Nantikanlah kelapangan, dan jangan hilang harap.

Berhimpunlah di atas dzikir kepada Allah, dan jangan bercerai-berai.

Cintailah satu sama lain, dan jangan menyimpan kebencian.

Ikuti, Taat, Tegaskan

Perintah-perintah pertama menetapkan arah bagi segala sesuatu yang mengikutinya. Sebelum Jilani berbicara tentang ahwal atau maqam, ia mengikat para pendengarnya pada Sunnah dan pada keesaan Allah. Sang wali yang kelak disebut abad-abad berikutnya sebagai yang teragung pada zamannya memulai justru dari titik yang sama dengan seluruh tradisi ini bermula: tidak ada jalan lain di samping jalan Nabi, dan tidak ada pembukaan yang datang lewat kedurhakaan.

Urutan pasangan-pasangan itu sendiri adalah sebuah pelajaran. Bidah disebut lebih dahulu daripada penyimpangan, dan penyimpangan lebih dahulu daripada menyekutukan Allah. Sang pengkhotbah sedang menelusuri bagaimana sebuah hati bisa hilang: mula-mula sebuah tambahan kecil pada agama, lalu langkah keluar dari jalan, lalu, di ujung jalan itu, sesembahan yang lain. Ia menutup pintu itu sejak langkah pertama.

Jangan Tuduh Dia

Perintah-perintah di tengah beralih kepada penderitaan, karena kehidupan para pendengarnya penuh dengannya. “Nyatakan Yang Hak bebas dari segala cela, dan jangan tuduh Dia” adalah nasihat yang oleh tradisi disebut husnuzan, berprasangka baik kepada Allah. Ketika kehilangan datang, nafsu mencari seseorang untuk disalahkan dan berani, secara diam-diam, menyalahkan Tuhannya. Jilani melarang bisikan itu sebelum ia sempat terbentuk.

Sabar, keteguhan, permintaan, harapan: keempatnya berjalan bersama. Hamba tidak diperintahkan untuk tidak merasakan apa pun. Ia diberitahu di mana harus berdiri selagi ia merasakannya: teguh dalam barisan, meminta tanpa rasa malu, yakin bahwa kelapangan sedang di jalan. Berserah diri, dalam mazhab ini, adalah sikap yang aktif, keteguhan seorang prajurit, bukan keruntuhan seorang korban.

Berhimpun, dan Saling Mencintai

Nasihat itu berakhir dengan meninggalkan hati yang pribadi dan berpaling kepada jamaah. Mengingat Allah, dzikir, diperintahkan dalam bentuk jamak: berhimpunlah di atasnya, jangan bercerai-berai. Dan pasangan terakhir adalah yang paling sederhana dalam seluruh rangkaian itu. Cintailah satu sama lain, dan jangan menyimpan kebencian.

Sebuah wacana yang dimulai dengan Sunnah berakhir dengan cinta persaudaraan, dan keduanya adalah satu pelajaran yang sama. Jalan yang dikhotbahkan Jilani berjalan dari kepatuhan yang benar menuju hati yang menghangat, dan ia tidak menganggap salah satu dari keduanya sendirian sebagai kedatangan.

Mengapa Suara Ini Masih Terasa Dekat

Sembilan abad kemudian, baris-baris ini masih terasa seperti seseorang berbicara langsung kepadamu. Itu bukan kebetulan terjemahan. Jilani menolak berbicara melampaui jangkauan pemahaman para pendengarnya. Perintah singkat, kata-kata sederhana, tanpa perhiasan. Kekuatan abadi kitab ini terletak pada penolakan itu, dan setiap penyajian atasnya berutang kepada pembaca kesederhanaan yang sama.

Sumber

  • Abd al-Qadir al-Jilani, al-Fath al-Rabbani wa’l-Fayd al-Rahmani (62 wacana, disampaikan di Baghdad, 545-546 H / 1150-1152 M; bagian di atas merender pembukaan wacana pertama)
  • Untuk pembanding dalam bahasa Inggris: Muhtar Holland (terj.), The Sublime Revelation (1992)

Tag

al-fath al-rabbani jilani sunnah adab sabar dzikir tauhid

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Ikutilah, Jangan Berbuat Bidah: Wacana Pertama al-Fath al-Rabbani.” sufiphilosophy.org, 6 Agustus 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/hikmah-harian/ikutilah-jangan-berbuat-bidah

Cari