Perjanjian Alastu: Sang 'Ya' Awali
Daftar Isi
Pada hampir setiap kehidupan manusia, ada saat ketika sesuatu terbuka di dada tanpa pertanda. Sebaris syair, matahari terbenam, frasa musik, kesunyian tiba-tiba di sebuah kamar pada malam hari; dan hati pun terasa nyeri tanpa peristiwa apapun di kehidupan kini yang dapat menjelaskannya. Tidak ada yang hilang dari dunia di sekeliling. Namun rasa rindu pulang melintasi tubuh, dan ia tahu bahwa tubuh sebenarnya bukan rumah. Tradisi sufi senantiasa memperlakukan nyeri ini dengan serius. Ia tidak menganggapnya sebagai gangguan atau suasana hati romantik. Ia menganggapnya sebagai sebuah ingatan.
Menurut tradisi, setiap jiwa membawa di dalamnya jejak dari sebuah saat yang lebih tua daripada kelahirannya. Sebelum waktu seperti yang kita kenal dimulai, sebelum jiwa memasuki tubuh apapun, Tuhan semesta alam menyapa setiap ruh manusia dan mengajukan satu pertanyaan. Ruh-ruh menjawab. Dan meski jawaban itu diberikan sebelum masuknya jiwa ke dalam dunia kelupaan, ia meninggalkan dalam kedalaman hati sebuah bekas yang tak ada apa pun di kehidupan ini yang dapat menghapusnya seluruhnya. Kerinduan yang mengejutkan kita di tengah-tengah suatu petang yang biasa, adalah riak permukaan dari jawaban awali itu, yang masih menggemakan.
Inilah doktrin Perjanjian Alastu, yawm al-mitsaq, Hari Perjanjian Awali.
Sumber Al-Qur’an
Doktrin ini bukan khayalan puitis. Ia berlandaskan pada satu ayat Al-Qur’an, ringkas dan mutlak:
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Dia mempersaksikan terhadap diri mereka: Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul, kami menjadi saksi. Agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami lengah terhadap ini.” (Q.S. Al-A’raf 7:172)
Bahasa Arab dari pertanyaan ilahi ini adalah alastu bi-rabbikum, “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Jawaban setiap ruh adalah bala, “Ya, sesungguhnya.” Dari satu kata Arab alastu inilah tradisi menurunkan nama peristiwa ini. Alast dalam puisi Persia dan Turki, Hari Alastu, Perjanjian Alastu: semuanya merujuk kepada ayat ini.
Ayat ini melukiskan sebuah pemandangan yang berlangsung sebelum waktu. Allah mengeluarkan dari sulbi Adam seluruh keturunan Adam, setiap manusia yang akan ada. Ia memperlihatkan mereka kepada diri mereka sendiri. Ia menyapa mereka secara langsung. Ia mengajukan pertanyaan-Nya. Mereka menjawab. Perjanjian dimeteraikan. Ayat itu menutupnya dengan menyebut alasannya: agar tidak ada manusia di hari kiamat yang dapat berkilah tidak tahu. Setiap jiwa telah mendengar pertanyaan itu. Setiap jiwa telah memberi jawaban. Pertemuan telah terjadi. Lupa yang berlangsung di dunia ini tidak menghapus ‘ya’ awali itu.
Para mufasir klasik meneliti ayat ini dengan kecermatan tinggi. Imam ath-Thabari, dalam Jami’ al-Bayan (sek. 883), memelihara berbagai tafsiran dari generasi pertama. Imam Fakhruddin ar-Razi, dalam Mafatih al-Ghaib (sek. 1210), menarik implikasi-implikasi filosofisnya. Kedua mazhab sepakat bahwa ayat itu menggambarkan suatu peristiwa nyata dalam ranah yang nyata, walaupun ranah pra-waktu. Para sufi mengangkat ayat itu dan menjadikannya batu sudut pemahaman mereka tentang jiwa.
Apa yang Dikatakan Perjanjian itu tentang Jiwa
Perjanjian Alastu bukan sekadar fragmen sejarah metafisis. Ia menetapkan suatu fakta struktural tentang setiap manusia. Jiwa datang ke dunia sudah dibentuk oleh pertanyaan dan jawaban. Ia tidak datang kosong. Ia datang berorientasi.
Orientasi inilah yang Al-Qur’an di tempat lain sebut fitrah, kecenderungan asli. “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama, fitrah Allah yang Dia menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada penciptaan Allah.” (Q.S. Ar-Rum 30:30) Fitrah adalah, di setiap jiwa manusia, sisa dari ‘ya’ yang diberikan sebelum waktu. Ia adalah kecondongan tabiat hati kepada Tuhannya. Ia bisa tertutup. Ia bisa redup. Ia tidak bisa dihilangkan.
Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam atasnya, mengajarkan prinsip yang sama dalam sebuah hadits yang dipelihara dalam Sahih al-Bukhari: “Setiap anak terlahir di atas fitrah. Lalu kedua orang tuanya menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” Bacaan sufi tidak menyempitkan hadits itu menjadi polemik. Ia membacanya sebagai pernyataan tentang keadaan manusiawi yang universal. Anak yang datang ke dunia datang membawa ‘ya’ itu. Apa yang terjadi sesudahnya di dunia kelupaan dapat mengubur ‘ya’ itu, mengalihkannya, atau memutarbalikkannya. Tetapi ‘ya’ itu telah diberikan. Perjanjian itu nyata. Orientasi itu bukan pilihan yang dapat dipunyai jiwa atau tidak. Itu adalah struktur jiwa.
Bambu yang Dipotong dari Rumpun
Perlakuan sufi yang paling masyhur terhadap Perjanjian Alastu adalah pembukaan Mathnawi karya Maulana Rumi, delapan belas baris yang dihafal pembaca bahasa Persia selama hampir delapan ratus tahun. Rumi memulai dengan sebuah citra:
“Dengarlah pada seruling, bagaimana ia menuturkan keluhan, mengeluh akan perpisahan-perpisahan. Sejak aku terpotong dari rumpun bambu, ratapanku telah membuat lelaki dan perempuan merintih. Aku menginginkan dada yang terkoyak oleh perpisahan, agar dapat kubukakan padanya derita kerinduan cinta.”
Bambu adalah sebuah seruling, tetapi ia juga jiwa manusia. Rumpun bambu adalah tanah air awali, tempat dari mana bambu itu dipotong. Rongga di dalam seruling adalah yang memungkinkannya membuat musik; penderitaan akibat perpisahan adalah yang memungkinkan jiwa mengungkapkan kerinduan. Seluruh Mathnawi, enam jilid dan dua puluh lima ribu bait, adalah penjabaran dari citra pembuka ini. Hidup sufi adalah hidup bambu yang dipotong, jiwa yang tahu bahwa ia telah dibawa keluar dari asalnya ke negeri kelupaan, dan tidak dapat berhenti menyanyikannya.
Rumi tidak mengarang metafora ini. Ia mewarisinya. Citra pengasingan, kerinduan akan negeri sebelum kelahiran, mengalir dalam puisi sufi dari Sanai dan Attar sebelumnya hingga Yunus Emre, Hafiz, dan Saadi sesudahnya. Perjanjian itu adalah sumbernya. ‘Ya’ itu telah diberikan. Lupa telah menempatkan jiwa di sebuah negeri di mana Sang Kekasih tidak lagi tampak. Nyanyian adalah jalan pulang.
Yunus Emre membawa pemahaman yang sama ke dalam bahasa Turki Anatolia dalam baris-baris yang begitu sederhana sehingga anak-anak desa menghafalnya, dan begitu dalam sehingga para sarjana menghabiskan karier menguraikannya. “Aşkın aldı benden beni, bana seni gerek seni”, “Cinta mengambil aku dari diriku; aku membutuhkan-Mu, hanya Engkau.” Yunus yang mengucapkan baris-baris ini bukan meminta sesuatu yang tak pernah ia miliki. Ia meminta kembalinya apa yang selalu ia miliki, yang dunia membuatnya lupa.
Mengapa Kita Merindu
Perjanjian Alastu menjawab pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh psikologi sekuler dengan sumber daya yang dimilikinya. Mengapa hati manusia, di tengah-tengah hidup yang sepenuhnya nyaman, merintih untuk sesuatu yang tidak dapat dinamai? Mengapa pengalaman terindah membawa sentuhan kesedihan? Mengapa seorang pencinta yang berbahagia kadang menangis dalam pelukan kekasihnya tanpa tahu mengapa?
Jawaban sufi langsung. Hati tidak berada di unsur tabiatnya. Ia adalah ikan di luar air yang sudah hidup begitu lama di luar air sehingga ia lupa apa itu air, tetapi ia tidak lupa bahwa ada yang hilang. Setiap kegembiraan di dunia ini adalah gema sebagian dari kehadiran awali tempat jiwa pernah berdiri. Setiap keindahan adalah serpihan yang menunjuk balik pada sumber keindahan. Setiap cinta adalah surat yang dikirim terlambat dari pengirim yang oleh jiwa setengah dilupakan tetapi tak dapat ia hentikan untuk dijawab.
Ini bukan penolakan terhadap kebaikan dunia ini. Tradisi sufi tidak menolak dunia. Dunia itu nyata. Kebaikan-kebaikannya nyata. Cinta-cintanya nyata. Tetapi ia bukan yang puncak. Mereka adalah tanda. Jari yang menunjuk bulan bukanlah bulan. Makanan yang baik, teman yang baik, pernikahan yang baik, pekerjaan yang baik adalah kebaikan-kebaikan yang nyata, dan sekaligus penunjuk ke arah apa yang sebenarnya diinginkan jiwa ketika ia setuju datang ke dalam tubuh. Penunjuk hanya menjadi masalah ketika ia disangka sebagai tujuan.
Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulum ad-Din, memberikan analisis ini dengan ketelitian khasnya. Hati, ia tulis, dijadikan untuk Allah. Ia ditempatkan di dunia kebaikan-kebaikan yang diciptakan, masing-masing memiliki bagian sebagian dari sifat-sifat ilahi yang hati ini dijadikan untuk mengenalinya. Ketika hati mencintai wajah yang indah, ia mencintai, sebagiannya, nama ilahi al-Jamil, Yang Maha Indah. Ketika hati mengagumi sikap dermawan, ia mengagumi, sebagiannya, nama ilahi al-Karim, Yang Maha Murah Hati. Kerinduan yang dirasakan hati bahkan di dalam cinta-cintanya adalah kerinduan akan sumber dari mana yang dicintai meminjam keelokan. Perjanjian Alastu adalah jaminan metafisis bahwa kerinduan ini bukan sebuah kekurangan. Itulah struktur dasar jiwa.
Arah Agama
Setelah perjanjian dipahami, struktur kehidupan keagamaan menjadi dapat dipahami. Agama, dalam bacaan sufi, bukanlah pemaksaan seperangkat aturan asing pada makhluk yang netral. Agama adalah pemulihan sebuah ‘ya’ yang sudah pernah diberikan oleh jiwa.
Lima shalat sehari, puasa Ramadhan, disiplin-disiplin panjang tarekat, praktik zikir, muraqabah, dan muhasabah, bukanlah tuntutan-tuntutan asing. Mereka adalah metode dengan mana jiwa, yang tersebar di dunia kelupaan, mengumpulkan dirinya kembali ke arah apa yang selalu ia pilih. Pencari yang shalat di waktu fajar bukanlah memulai sebuah hubungan. Ia mengingat kembali sebuah hubungan.
Inilah sebabnya tradisi sufi senantiasa menolak menggambarkan dirinya sebagai disiplin penciptaan-diri. Pencari tidak menemukan hubungannya dengan Allah. Ia menyingkapkannya. Pekerjaannya adalah penggalian, bukan pembangunan. Di bawah lapisan-lapisan kegangguan, kebiasaan, ego, dan kelupaan, ada fondasi yang diletakkan sebelum waktu. Disiplin-disiplin membersihkan permukaan. Apa yang disingkapkan selalu sudah ada di sana.
Al-Ghazali menulis dalam Ihya’ bahwa hati itu seperti cermin. Pada zaman pra-azali, ia menerima pertanyaan ilahi dan memberikan jawabannya. Cermin itu telah dipoles dengan sempurna dan memantulkan apa yang ditempatkan di hadapannya. Lalu datang dunia kelahiran, syahwat, dan kegangguan. Setiap kelalaian, setiap dosa, setiap belitan menumpukkan satu lapis debu di atas cermin itu. Cermin itu tidak pecah. Kemampuan memantulkannya tetap ada. Tetapi pemolesan harus dilakukan kembali, dan hanya metode-metode agama, yang dihayati dan dipadukan, yang mampu melakukannya. Pemolesan cermin itu adalah pemulihan kontak pencari dengan Hari Alastu.
Sapaan Pra-Azali
Suatu titik halus dalam ayat itu pantas mendapat perhatian. Sapaan dalam ayat itu, alastu bi-rabbikum, diajukan dalam bentuk pertanyaan dalam bahasa Arab. Allah tidak menyatakan kerajaan-Nya. Ia meminta jiwa mengenalinya. Jawaban jiwa, bala, “Ya”, oleh karena itu adalah perbuatan pengakuan yang bebas. Perjanjian itu bukan paksaan. Itu adalah undangan yang dijawab.
Para mufasir klasik memperhatikannya. Ayat itu tidak menggambarkan perjanjian yang dipaksakan oleh kekuatan unggul kepada bawahan yang lebih rendah. Ia menggambarkan sebuah pertanyaan yang Allah Sendiri, dalam rahmat-Nya, ajukan kepada makhluk-makhluk yang Ia sapa sebagai mampu menjawab. Kemampuan menjawab itu sendiri adalah karunia. Kemuliaan manusia, dalam pemahaman sufi, dimulai di sini. Setiap jiwa, pada saat sebelum waktu, diperlakukan sebagai pantas disapa. Setiap jiwa naik ke kemuliaan sebuah jawaban.
Karena itu tradisi sufi menanggapi hati manusia dengan begitu serius. Hati bukan sekadar organ yang memompa darah. Ia adalah tempat pertemuan pertanyaan dan jawaban, kamar di mana ‘ya’ awali diberikan dan tetap, betapa pun terkubur, masih diberikan. Pekerjaan jalan adalah membawa kembali ke kesadaran apa yang diberikan di kedalaman tempat kesadaran belum menembus.
Lupa dan Mengingat
Al-Qur’an menggunakan sepasang kata khusus untuk apa yang terjadi pada jiwa di dunia: ghaflah, kelalaian, dan dzikr, ingatan. Kedua kata ini tidak dipilih sembarangan. Mereka mengandaikan perjanjian. Lalai dari Allah bukanlah tidak tahu sesuatu yang tidak pernah dikenal. Itu adalah lupa terhadap sesuatu yang sudah dikenal. Mengingat Allah dalam zikir bukanlah mempelajari sesuatu yang baru. Itu adalah memulihkan sesuatu yang sudah ada di sana.
Inilah sebabnya praktik zikir, di jantung setiap tarekat sufi, memiliki tepat makna yang dimilikinya. Akar Arabnya berarti baik “ingatan” maupun “menyebutkan”. Ketika pencari mengucapkan Allah, la ilaha illa Allah, Hu, suku-suku katanya bukan suara abstrak. Mereka adalah panggilan yang dikenali jiwa dari asalnya. Setiap pengulangan menyapu satu lapis debu dari cermin. Setiap pengulangan mendekatkan jiwa sepersekian dengan saat kejernihan ketika apa yang pernah dikatakan ya kepadanya kembali hadir.
Para guru sufi semua menggambarkan jalan sebagai sebuah pulang. Junayd al-Baghdadi menyebut pencari sebagai seorang yang “kembali”. Ibnu Arabi menulis bahwa perjalanan adalah raji’un ila Allah, “kembali kepada Allah”, menggemakan ungkapan Qur’ani inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Pulang itu bukan kiasan. Itu adalah uraian struktural. Jiwa yang berjalan ke dunia dari perjanjian itu, sepanjang hidupnya, sedang berjalan pulang. Pertanyaannya hanya apakah ia berjalan pulang dengan kesadaran atau tanpa kesadaran.
Bobot ‘Ya’
Sumber-sumber klasik menarik suatu kesimpulan yang menggugah. Jika setiap jiwa sudah mengatakan ya, maka perjalanan ini bukan pilihan dengan cara di mana diri modern membayangkan pilihannya sebagai pilihan. Pencari yang menolak jalan ini bukan menghindari tuntutan asing. Ia melanggar janji yang sudah diberikan oleh lapisan terdalam dari keberadaannya sendiri. Tarikan yang ia rasakan kembali ke arah Tuhan, bahkan ketika ia menolaknya, adalah tarikan struktural dari ‘ya’ miliknya sendiri yang masih aktif di dalamnya. Ia tidak dapat menjadi orang yang tidak pernah membuat perjanjian. Ia hanya dapat menjadi orang yang menolak mengakui perjanjian yang ia buat.
Inilah sebabnya Al-Qur’an mengatakan perjanjian itu mengikat “agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami lengah terhadap ini.” Tidak ada manusia yang akan dapat mengatakan, di hari ketika setiap jiwa berdiri di hadapan Tuhannya, bahwa pertanyaan itu tidak pernah diajukan. Pertanyaan itu telah diajukan. Jawabannya telah diberikan. Lupa yang dihasilkan dunia tidak membatalkan jawaban itu. Hanya menunda pengakuan pencari atas apa yang ia sendiri, di dalam asal terdalamnya, telah katakan.
Imam ar-Razi menarik dalam tafsirnya kesimpulan ini: keadaan moral manusia bukanlah keadaan orang asing. Itu adalah keadaan orang yang pulang. Kita tidak sedang membangun hubungan dengan Allah dari nol. Kita sedang menemukan jalan kembali kepada hubungan yang bagian terdalam dari diri kita tidak pernah benar-benar tinggalkan.
Bobot Praktis
Doktrin perjanjian, jika dianggap serius, mengubah tekstur praktik agama sehari-hari.
Shalat fajar menjadi melanjutkan kembali sebuah percakapan. Puasa menjadi cara membersihkan kebisingan yang menutupi suatu suara yang sudah dikenal jiwa. Membaca Al-Qur’an menjadi pertemuan dengan kata-kata yang oleh jiwa, di tingkat di bawah ingatan sadar, diingat selalu telah dikenal. Persahabatan dengan pencari lain menjadi pengenalan terhadap seseorang yang, sepertimu, mengatakan ya pada saat pra-azali yang sama, dan, sepertimu, sedang dalam perjalanan pulang.
Karenanya juga tradisi sufi telah begitu yakin tentang keuniversalan pesannya. Perjanjian itu universal. Setiap manusia, terlepas dari budaya atau pengasuhan, hadir pada Hari Alastu. Setiap manusia membawa ‘ya’ itu. Pekerjaan pencari adalah menemukan jalan pulangnya. Pekerjaan guru adalah membantu orang lain menemukan jalan pulang mereka. Jangkauan jalan ini tidak sempit karena perjanjian itu tidak sempit. Ia mencakup setiap jiwa yang akan pernah datang ke dalam keberadaan.
Keuniversalan ini bukan relativisme agama. Jalan pulang adalah, dalam pemahaman sufi, jalan yang dibawa Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam atasnya, dalam bentuknya yang paling utuh dan paling jernih. Tetapi jiwa yang menemukan dirinya di jalan itu tidak diminta memperoleh sesuatu yang asing. Ia diminta untuk pulang ke rumah.
Inti Persoalan
Perjanjian Alastu adalah jawaban sufi atas pertanyaan terdalam yang ditanyakan orang-orang modern tanpa mengetahui bahwa mereka menanyakannya. Mengapa aku tak pernah benar-benar damai? Mengapa kebahagiaanku pun membawa benang kecil yang gelap? Apa kerinduan ini yang tidak cocok dengan apa pun yang dapat aku namai?
Jawaban tradisi adalah bahwa kerinduan itu nyata, dan ia memiliki nama. Itu adalah jiwa yang memanggil apa yang jiwa setujui sebelum waktu dimulai. Nyeri itu bukan cacat yang harus disembuhkan oleh terapi atau perolehan berikutnya. Itu adalah ingatan yang harus dihormati dengan berjalan kembali, langkah demi langkah, kepada Yang Mengajukan pertanyaan.
“Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Ya.” (Q.S. Al-A’raf 7:172)
Inilah ayat awali itu dan ‘ya’ awali itu. Setiap shalat, setiap napas zikir, setiap perbuatan sabar di bawah kesusahan, setiap kata yang jujur di malam hari ketika tak seorang pun mendengar, adalah jiwa yang berkata ya kembali, dalam bahasa dunia ini, kepada pertanyaan yang diajukan kepadanya dalam bahasa dunia sebelum dunia ini.
Jalan yang tradisi dibangun untuk memelihara adalah jalan dari ‘ya’ itu yang dibawa ke dalam tubuh, ke dalam hidup, ke dalam disiplin harian, sampai hari di mana tubuh kembali dan jiwa berdiri lagi di tempat ia pernah berdiri dan menemukan, kali ini tanpa lupa, bahwa jawaban yang ia berikan kala itu masih jawabannya.
Sumber
- Al-Qur’an: Al-A’raf 7:172; Ar-Rum 30:30
- Hadits fitrah (Sahih al-Bukhari)
- Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan an Ta’wil Ay al-Qur’an (sek. 883)
- Ar-Razi, Mafatih al-Ghaib (sek. 1210)
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din (sek. 1097)
- Maulana Rumi, Mathnawi (sek. 1273)
- Ibnu Arabi, Fushush al-Hikam (sek. 1230)
- Yunus Emre, Diwan (sek. abad ke-14)
Tag
Kutip Artikel Ini
Raşit Akgül. “Perjanjian Alastu: Sang 'Ya' Awali.” sufiphilosophy.org, 8 Mei 2026. https://sufiphilosophy.org/id/dasar/perjanjian-alastu.html
Artikel Terkait
Syariat, Tarekat, Hakikat: Tiga Dimensi Jalan
Syariat adalah hukum lahir. Tarekat adalah jalan batin. Hakikat adalah kenyataan yang ditunjuk keduanya. Struktur klasik Islam dalam tiga kedalaman.
Hal dan Maqam: Peta Perjalanan Pencari
Maqam adalah yang diraih melalui perjuangan dan tetap; hal adalah yang turun sebagai karunia dan pergi. Dua kosakata yang memetakan seluruh jalan sufi.
Fana dan Baqa: Pemusnahan dan Kelangsungan
Fana adalah lenyapnya diri palsu. Baqa adalah kembali ke kehidupan biasa, diperkaya oleh apa yang telah dirasai. Peta stasiun tertinggi jalan.