Skip to content
Puisi

Apa Pun yang Dia Perbuat, Dia Perbuat dengan Indah: Tefvizname Ibrahim Hakki

Oleh Raşit Akgül 1 Juni 2026 6 menit baca

Ada sebuah sajak yang dijangkau orang-orang Anatolia di sisi makam dan di sisi pembaringan, di tahun-tahun kekeringan dan di malam-malam ketakutan, selama hampir tiga abad. Ia adalah Tefvizname, Sajak Penyerahan, yang ditulis oleh Erzurumlu Ibrahim Hakki, dan ia mengakhiri setiap baitnya dengan satu baris yang telah menjadi peribahasa di lidah orang Turki: Mevla gorelim neyler, neylerse guzel eyler. Mari kita lihat apa yang akan Tuhan perbuat; apa pun yang Dia perbuat, Dia perbuat dengan indah.

Allah mengubah keburukan menjadi kebaikan; jangan sangka Dia berbuat sebaliknya. Sang arif menatapnya dengan takjub: mari kita lihat apa yang akan Tuhan perbuat, apa pun yang Dia perbuat, Dia perbuat dengan indah.

Letakkanlah kepercayaanmu kepada Yang Hak, serahkanlah urusanmu kepada-Nya dan temukan ketenangan, bersabarlah, dan ridailah: mari kita lihat apa yang akan Tuhan perbuat, apa pun yang Dia perbuat, Dia perbuat dengan indah.

Di tempat ketika engkau tak lagi punya jalan, tiba-tiba Dia menyingkapkan tabir; luka itu sendiri menjadi obatnya: mari kita lihat apa yang akan Tuhan perbuat, apa pun yang Dia perbuat, Dia perbuat dengan indah.

Erzurumlu Ibrahim Hakki (w. 1780), Tefvizname, dari Marifetname

Sang Pemeta Ciptaan

Ibrahim Hakki lahir di Erzurum pada tahun 1703 dan menjadi salah seorang polimat agung terakhir dalam keilmuan Anatolia. Karyanya yang luas, Marifetname, Kitab Makrifat, menghimpun astronomi, anatomi, kejiwaan manusia, dan metafisika ke dalam satu upaya membaca ciptaan sebagai sebuah kitab yang penulisnya adalah Allah. Mendekati penutupnya, ia menuliskan sajak ini, sebuah saripati dari segala yang dibahas kitab besar itu, cukup ringkas untuk dibawa dalam ingatan seseorang yang bahkan tak sanggup membaca satu halaman pun darinya.

Itulah kecemerlangan Tefvizname. Ilmunya untuk segelintir orang. Penghiburannya untuk semua orang.

Allah Mengubah Keburukan Menjadi Kebaikan

Baris pertama menyatakan seluruh akidahnya: Hak serleri hayreyler, Allah mengubah keburukan menjadi kebaikan. Bagi orang beriman ini bukanlah sekadar perasaan melainkan sebuah maqam keimanan. Iman kepada takdir Ilahi, kepada qadar, adalah salah satu rukun Islam, dan tradisi Anatolia memegangnya tanpa gentar: tidak ada sesuatu pun yang menimpa seseorang kecuali dengan pengetahuan dan kehendak Allah, dan Allah adalah al-Hakim, Yang Maha Bijaksana, yang hikmah-Nya adalah baik bahkan ketika wajahnya terasa keras.

Al-Qur’an menyatakannya dengan jelas: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (2:216). Sajak ini tidak menyangkal bahwa keburukan itu dirasakan sebagai keburukan. Ia menyangkal bahwa keburukan itu adalah kata yang terakhir. Sang arif, orang yang mengenal, “menatapnya dengan takjub,” seyreyler, sebab ia telah melihat, berulang kali, kebaikan yang Allah lipatkan di dalam apa yang tampak seperti kehancuran.

Empat Tahap Penyerahan

Bait kedua adalah sebuah tangga, dan setiap anaknya memiliki nama dalam tradisi. Tevekkul, tawakal: letakkan sandaranmu kepada Yang Hak. Tefviz, penyerahan: serahkan urusan itu sendiri kepada-Nya dan temukan ketenangan. Sabr, sabar: bertahanlah teguh melewati apa yang tak bisa engkau ubah. Rida, keridaan: jangan sekadar menanggung takdir, tetapi terimalah ia dengan rela.

Urutannya penting, demikian pula apa yang tidak ia katakan. Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar. Orang beriman mengikat untanya lalu bertawakal, sebagaimana yang Nabi ajarkan. Tefviz bermula di tempat ikhtiar berakhir: ketika engkau telah melakukan apa yang menjadi bagianmu, engkau kembalikan hasilnya kepada Pemiliknya. Yang diminta sajak ini bukanlah kepasifan. Ia adalah perbedaan antara hati yang menggerogoti apa yang tak bisa ia genggam dan hati yang telah meletakkannya di satu-satunya pintu tempat ia aman.

Luka Menjadi Obatnya

“Di tempat ketika engkau tak lagi punya jalan, tiba-tiba Dia menyingkapkan tabir.” Inilah inti sajak itu, dan ia membawa hikmah yang Al-Qur’an ceritakan melalui Khidir (18:65 sampai 82): perahu yang sengaja dirusakkan agar perampasan seorang lalim melewatkannya, kesulitan yang ternyata rahmat yang mengenakan topeng kemudaratan. Nacar kalacak yerde, tepat ketika engkau kehabisan pilihan, tabir ditarik kembali dan rancangan-Nya tampak.

Derman olur ol derde, luka itu sendiri menjadi obat bagi luka itu. Para penyair Anatolia kembali kepada hal ini berulang kali: bahwa derita yang tampaknya hanya merampas sering kali adalah tangan yang membuka. Orang beriman yang telah menjalani hidup sejenak telah menyaksikannya terjadi, dan ingatan itulah yang membuatnya sanggup menyanyikan refrain itu sebelum rancangan-Nya tampak, selagi ia masih berada di dalam kegelapan.

Jangan Berkata Mengapa Begini

Di antara bait-bait yang tidak dikutip di sini, ada satu baris yang menjaga seluruh sajak ini: deme su nicin soyle, jangan berkata mengapa begini. Ini bukanlah larangan untuk berpikir. Ia adalah adab, kesantunan seorang hamba di hadapan takdir Tuhannya. Membantah takdir berarti mengklaim pengetahuan yang tidak seseorang miliki, mengadu pelita kecil dirinya dengan hikmah yang menerangi delapan belas ribu alam. Sang arif tidak membantah. Ia menatap, dan ia menanti untuk melihat apa yang akan Tuhan perbuat, sambil menyerahkan penantian itu sendiri kepada Yang ditatapnya.

Refrain sebagai Wirid

Mevla gorelim neyler, neylerse guzel eyler. Diucapkan sekali, ia adalah sebuah bait. Diucapkan berulang kali, ia menjadi sebuah zikir, sebuah ingatan yang menambatkan kembali hati pada Yang menggenggam hari esok. Beginilah Anatolia membawa sajak ini: bukan sebagai perdebatan yang harus dimenangkan melainkan sebagai napas yang harus ditarik, lagi dan lagi, hingga gemetar itu reda. Seorang ibu mengucapkannya di atas anak yang sakit. Sebuah desa mengucapkannya atas panen yang gagal. Ia tidak melenyapkan ketakutan. Ia memindahkan ketakutan ke tempatnya yang semestinya, di bawah hikmah Allah, bukan di atasnya.

Dia Telah Berbuat dengan Indah

Sajak itu memuncak menjadi sebuah sumpah. Dalam bait penutupnya Ibrahim Hakki tidak mengatakan bahwa boleh jadi Allah telah berbuat baik, atau mungkin pada waktunya akan terbukti telah berbuat baik. Ia bersumpah atasnya: vallahi guzel etmis, billahi guzel etmis, tallahi guzel etmis, demi Allah Dia telah berbuat dengan indah, demi Allah Dia telah berbuat dengan indah, demi Allah Dia telah berbuat dengan indah. Sumpah rangkap tiga itu adalah bahasa rida di puncaknya, ketika hati tak lagi menunggu kebaikan tampak sebelum ia merelakannya. Ia merelakannya sekarang, dalam kegelapan, atas dasar siapa yang sedang berbuat, bukan atas dasar apa yang masih bisa terlihat.

Inilah karunia yang telah Tefvizname berikan kepada dunia berbahasa Turki selama tiga ratus tahun. Ia tidak menjanjikan bahwa tak ada yang akan menyakitkan. Ia menjanjikan bahwa tak ada yang sia-sia, bahwa Yang nama-nama-Nya adalah rahmat dan hikmah adalah Yang tangan-Nya ada dalam segala sesuatu, dan bahwa hamba yang sanggup mengucapkan neylerse guzel eyler dengan sepenuh maknanya telah menemukan ketenangan yang menjadi tujuan seluruh jalan ini.

Sumber

  • Erzurumlu Ibrahim Hakki, Marifetname (1757), Tefvizname
  • Al-Qur’an: 2:216, 18:65-82, 65:3, 64:11
  • Bukhari, Sahih (hadis “ikatlah untamu dan bertawakallah”)
  • Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (1975)

Tag

erzurumlu ibrahim hakki tawakal rida takdir ilahi tefviz tasawuf anatolia

Artikel Terkait

Kutip sebagai

Raşit Akgül. “Apa Pun yang Dia Perbuat, Dia Perbuat dengan Indah: Tefvizname Ibrahim Hakki.” sufiphilosophy.org, 1 Juni 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/puisi/apa-pun-yang-dia-perbuat-indah.html