Deritaku Adalah Obatku: Niyazi-i Misri tentang Dekatnya Sang Sahabat
Daftar Isi
Sebagian puisi menghibur karena ia menjelaskan. Puisi ini menghibur karena ia mengaku. Niyazi-i Misri, sang guru Halveti yang menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pengasingan, duduk bersama keluhan tertua dari hati yang mencari, bahwa Allah seakan jauh dan pencarian seakan tiada habisnya, lalu menjawabnya dengan satu baris yang membalikkan segalanya, baris yang telah dinyanyikan Anatolia selama tiga abad: derman arardim derdime, derdim bana derman imis. Kucari obat bagi deritaku, dan derita itu sendirilah obatnya.
Kucari penawar bagi deritaku; derita itu sendiri, ialah penawarnya. Kucari bukti bagi asal-usulku; asal-usul itu sendiri, ialah buktinya.
Aku terus menoleh ke kanan dan kiriku, berharap melihat wajah Sang Sahabat. Aku mencari jauh di luar sana, dan Dia adalah jiwa di dalam jiwa.
Dulu kukira ada perpisahan: Sang Sahabat itu lain, dan aku ini lain. Dia yang melihat dan mendengar melalui diriku, kini kuketahui, ialah Sang Kekasih.
Niyazi-i Misri (w. 1694), Divan-i Ilahiyyat
Derita yang Adalah Obat
Baris pertama membalikkan seluruh cara hidup. Kita memperlakukan perih hati sebagai persoalan yang harus dipecahkan, kekurangan yang harus diisi, luka yang harus ditutup. Niyazi-i Misri berkata sebaliknya: perih itu tidak pernah menjadi penyakitnya. Ia adalah obatnya.
Dalam pemahaman tasawuf, kerinduan yang dirasakan seseorang akan sesuatu yang tak mampu ia namai bukanlah cacat. Ia adalah panggilan. Ia adalah tarikan asal-usul atas hati, shawq, kerinduan jiwa akan pulang kepada Dzat tempat ia berasal. Seseorang bisa menghabiskan seumur hidup berusaha membungkam perih itu dengan kenyamanan, pengalihan, atau perdebatan, dan perih itu tak akan terbungkam, sebab ia memang tak pernah dimaksudkan untuk disembuhkan oleh hal-hal itu. Ia dimaksudkan untuk membawanya pulang. Derita itu adalah tali, bukan luka. Merasakannya berarti sudah ditarik.
Asal-Usulku Adalah Buktinya
“Kucari bukti bagi asal-usulku; asal-usul itu sendiri ialah buktinya.” Di sini sang penyair mengesampingkan jalan panjang perdebatan. Kita berusaha menalar menuju kepastian tentang Allah, mengumpulkan dalil seakan hati ini sebuah pengadilan. Namun kepastian yang paling dalam tidak disimpulkan. Ia diingat kembali.
Al-Qur’an menggambarkan sebuah saat purba, Perjanjian Alast, ketika Allah bertanya kepada jiwa-jiwa yang belum dilahirkan, “Bukankah Aku Tuhanmu?” dan mereka menjawab, “Benar, kami bersaksi” (7:172). Sesuatu dalam diri manusia masih membawa “benar” itu. Inilah fitrah, watak asali, kecondongan kepada Yang Maha Nyata yang tak perlu diajarkan kepada siapa pun. Niyazi-i Misri berkata bahwa pencari yang mencari bukti tentang asal-usulnya sedang menggenggam bukti itu sembari mencarinya. Dirinyalah buktinya. Kerinduan di dalam dirinya adalah tanda tangan Dzat yang menciptakannya.
Mencari di Luar Apa yang Ada di Dalam
Bait kedua adalah jantung puisi ini, dan yang paling mudah disalahpahami. “Aku mencari jauh di luar sana, dan Dia adalah jiwa di dalam jiwa.” Bertahun-tahun sang penyair menoleh ke kanan dan ke kirinya, menyusuri cakrawala mencari wajah Sang Sahabat, seolah Allah adalah tujuan di ujung sebuah jalan. Penemuannya bukanlah bahwa jalan itu lebih pendek dari yang ia kira. Penemuannya adalah bahwa ia telah memandang ke arah yang salah.
Kedekatan ini adalah bahasa Al-Qur’an sendiri. “Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (50:16). “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat; Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku” (2:186). “Ketahuilah bahwa Allah membatasi antara manusia dan hatinya” (8:24). Sang Sahabat tidaklah jauh. Dia lebih dekat kepada sang hamba daripada sang hamba kepada dirinya sendiri.
Sangat penting membaca “jiwa di dalam jiwa” secara tepat. Niyazi-i Misri tidak mengatakan bahwa jiwa manusia adalah Allah, atau bahwa Allah masuk ke dalamnya. Hal itu akan menghapus garis antara Sang Pencipta dan ciptaan, dan seluruh tradisi menolaknya. Yang ia katakan adalah bahwa Dzat yang menahan jiwa dalam wujud, yang menopangnya dari tempat yang lebih dekat daripada kesadaran jiwa itu sendiri, tidak pernah menjadi sasaran jauh yang dikhayalkan sang pencari. Setetes air tidak menjadi samudra. Setetes air menemukan bahwa ia tak pernah sedetik pun terpisah dari Dzat yang menuangkannya.
Dia yang Melihat dan Mendengar Melalui Diriku
“Dia yang melihat dan mendengar melalui diriku, kini kuketahui, ialah Sang Kekasih.” Baris ini bertumpu pada salah satu hadis yang paling bercahaya sekaligus paling dijaga dengan hati-hati dalam tradisi, hadis tentang kedekatan melalui ibadah-ibadah sunah. Allah berfirman tentang hamba yang Dia cintai: “Aku menjadi pendengaran yang dengannya ia mendengar, penglihatan yang dengannya ia melihat, tangan yang dengannya ia memukul, dan kaki yang dengannya ia berjalan” (Bukhari).
Pembacaan ahlusunah atas hadis ini bersifat cermat, dan itulah pembacaan yang dimaksudkan Niyazi-i Misri. Ia tidak berarti bahwa sang hamba menjadi Allah atau bahwa Allah menjadi sang hamba. Ia berarti bahwa ketika cinta telah memurnikan sebuah hati, Allah membimbing dan menopang hati itu begitu sempurna sehingga sang hamba tidak lagi mendengar, melihat, atau bertindak kecuali dengan cahaya dan keridaan Tuhannya. Daya-dayanya tetaplah miliknya, tercipta dan bergantung, namun bergerak hanya sebagaimana rahmat menggerakkannya. Inilah fana, terhapusnya kehendak ego yang terpisah, bukan ittihad, peleburan hakikat. Sang hamba tetap seorang hamba. Yang lenyap hanyalah ilusi bahwa ia pernah bertindak atas dayanya sendiri.
Perjalanan ke Dalam pada Jalan Halveti
Niyazi-i Misri termasuk dalam jalan Halveti, yang namanya sendiri berasal dari khalwa, pengasingan, suatu uzlah ketika sang pencari menarik diri dari hiruk-pikuk dunia untuk menghadapi apa yang ada di dalam. Puisi ini adalah khalwa yang diubah menjadi nyanyian. Seluruh geraknya adalah pemalingan pandangan: dari kanan dan kiri ke pusat, dari luar ke dalam, dari pencarian kepada Sang Pencari.
Ia menghayati ini dalam kondisi yang berat. Berkali-kali diasingkan karena keterusterangannya, mengakhiri hari-harinya di pulau Limni, ia punya segala alasan untuk memandang ke luar pada keadaannya dan putus asa. Sebaliknya, ia memandang ke dalam dan mendapati bahwa Dzat yang ia cari ternyata lebih dekat daripada pengasingannya, lebih dekat daripada kepedihannya, lebih dekat daripada napasnya sendiri. Puisi ini membawa kewibawaan seseorang yang mengujinya justru di tempat yang paling sulit untuk diyakini.
Apa yang Kaucari, Kausedang Membawanya
Inilah sebabnya Anatolia tak pernah berhenti menyanyikannya. Puisi ini tidak menjanjikan bahwa derita akan berhenti. Ia menjanjikan bahwa derita itu punya arah, bahwa ia bukan kebisingan melainkan sebuah suara, dan bahwa Dzat yang dituju oleh suara itu tidak berada di ujung sebuah pencarian yang melelahkan melainkan lebih dekat daripada sang pencari kepada dirinya sendiri. Apa yang kaucari, sesungguhnya sudah kausedang membawanya. Perih yang selama ini kaucoba sembuhkan itulah obatnya, menarikmu, baris demi baris, menuju kedekatan yang sejak semula selalu ada.
Sumber
- Niyazi-i Misri, Divan-i Ilahiyyat (sekitar abad ke-17)
- Al-Qur’an: 7:172, 50:16, 2:186, 8:24
- Bukhari, Sahih, Kitab al-Riqaq (hadis tentang kedekatan melalui ibadah-ibadah sunah)
- Kenan Erdogan, Niyazi-i Misri Divani (1998)
- Annemarie Schimmel, Mystical Dimensions of Islam (1975)
Tag
Artikel Terkait
Apa Pun yang Dia Perbuat, Dia Perbuat dengan Indah: Tefvizname Ibrahim Hakki
Tefvizname Erzurumlu Ibrahim Hakki, 'apa pun yang Tuhan perbuat, Dia perbuat dengan indah': tawakal, sabar, dan rida ata...
PuisiIndah Namanya, Indah Pula Dirinya: Yunus Emre tentang Cinta kepada Nabi
Na't tercinta Yunus Emre, adi guzel kendi guzel Muhammed: nyanyian Anatolia tentang cinta kepada Nabi, keindahannya, dan...
PuisiAdakah di Dunia Orang Asing Seperti Aku: Yunus Emre tentang Ghurbat
Ilahi Anatolia Yunus Emre tentang ghurbat. Gema hadis 'Islam mulai sebagai asing', hak orang asing yang wafat, rindu hat...
Kutip sebagai
Raşit Akgül. “Deritaku Adalah Obatku: Niyazi-i Misri tentang Dekatnya Sang Sahabat.” sufiphilosophy.org, 2 Juni 2026 . https://sufiphilosophy.org/id/puisi/deritaku-adalah-obatku.html