Skip to content
Hikmah Harian

Tawakkal: Kepercayaan kepada Allah

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 3 menit baca

Tawakkal sering diterjemahkan sebagai “berserah diri kepada Allah” atau “mempercayakan diri kepada Allah.” Tetapi terjemahan ini, jika tidak dipahami dengan tepat, bisa menyesatkan. Tawakkal dalam tradisi Sufi bukan kepasifan. Ia bukan duduk diam dan menunggu segalanya terjadi. Ia adalah kombinasi yang paradoks: berusaha sepenuhnya sambil menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah.

Nabi Muhammad SAW mengajarkan prinsip ini dengan sangat jelas ketika seorang Badui bertanya apakah ia harus mengikat untanya atau hanya bertawakkal. Nabi menjawab: “Ikatlah untamu, kemudian bertawakkallah.”

Tawakkal dan Usaha

Kesalahpahaman paling umum tentang tawakkal adalah menganggapnya bertentangan dengan usaha. Ini keliru. Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumiddin menjelaskan bahwa tawakkal yang benar melibatkan tiga unsur:

Pengetahuan (ma’rifah): Memahami bahwa Allah-lah yang sebenarnya mengatur segalanya. Usaha kita adalah sebab (sabab), tetapi hasilnya ditentukan oleh Allah.

Keadaan hati (hal): Ketenangan batin yang lahir dari keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Apa pun hasilnya, itu adalah yang terbaik menurut pengetahuan-Nya yang tak terbatas.

Tindakan (amal): Tetap berusaha, tetap bekerja, tetap mengambil langkah-langkah yang diperlukan. Tawakkal tanpa usaha adalah kemalasan yang berpura-pura menjadi spiritualitas.

Tingkatan Tawakkal

Para guru Sufi mendeskripsikan beberapa tingkatan tawakkal:

Tingkat pertama: Mempercayakan urusan kepada Allah sebagaimana seseorang mempercayakan urusannya kepada pengacara yang kompeten. Ada kepercayaan, tetapi masih ada kecemasan.

Tingkat kedua: Mempercayakan diri kepada Allah sebagaimana seorang bayi mempercayakan diri kepada ibunya. Tidak ada kecemasan, hanya penyerahan yang alami dan total.

Tingkat ketiga: Bersama Allah sebagaimana mayat di tangan orang yang memandikannya. Tidak ada kehendak sendiri, tidak ada usaha sendiri, hanya penyerahan total. Ini adalah maqam para wali yang telah mencapai tingkat tertinggi.

Tawakkal dalam Kehidupan Indonesia

Di Indonesia, tawakkal adalah konsep yang sangat akrab. Ungkapan “pasrah kepada Allah” atau “serahkan saja kepada Allah” sering terdengar dalam percakapan sehari-hari. Tetapi tawakkal yang otentik berbeda dari fatalism atau kemalasan.

Petani Indonesia yang menanam padi, merawatnya, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah, itulah tawakkal yang benar. Pedagang yang berdagang dengan jujur lalu menerima apa pun hasilnya dengan lapang dada, itulah tawakkal yang benar. Santri yang belajar keras lalu menyerahkan hasil ujiannya kepada Allah, itulah tawakkal yang benar.

Yang bukan tawakkal adalah tidak berusaha sama sekali sambil mengklaim bahwa “Allah akan mengurus segalanya.” Ini bukan tawakkal; ini kemalasan yang dibungkus bahasa spiritual.

Tawakkal sebagai Pembebasan

Dimensi terdalam dari tawakkal adalah kebebasan. Ketika seseorang benar-benar menyerahkan hasil kepada Allah, ia bebas dari kecemasan tentang masa depan, bebas dari penyesalan tentang masa lalu, dan bebas untuk hadir sepenuhnya di saat ini.

Kecemasan, dalam kerangka Sufi, adalah gejala dari kurangnya tawakkal. Jika seseorang benar-benar percaya bahwa Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Penyayang, maka tidak ada alasan untuk cemas. Ini tidak berarti tidak ada kepedihan atau kesulitan; tetapi kepedihan itu dialami dalam konteks kepercayaan yang lebih besar.

Sumber

  • Al-Quran, Surah al-Thalaq 65:3, Ali Imran 3:159, al-Ma’idah 5:23
  • Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, Kitab al-Tawakkul (c. 1097)
  • Abdul Qadir al-Jilani, Futuh al-Ghayb (c. abad ke-12)
  • Ibn Atha’illah al-Iskandari, Al-Hikam (c. 1290)

Tag

tawakkal kepercayaan tawakal pasrah

Kutip Artikel Ini

Raşit Akgül. “Tawakkal: Kepercayaan kepada Allah.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026. https://sufiphilosophy.org/id/hikmah-harian/tawakkul.html