Skip to content
Tarekat

Tarekat Qadiri: Jalan Pintu Terbuka

Oleh Raşit Akgül 3 April 2026 4 menit baca

Tarekat Qadiriyah, yang dinisbatkan kepada Abdul Qadir al-Jilani (1077-1166), adalah salah satu tarekat Sufi tertua dan paling tersebar di dunia Islam. Dari Baghdad hingga Afrika Barat, dari India hingga Nusantara, Qadiriyah hadir di hampir setiap sudut dunia Muslim. Di Indonesia, ia menempati posisi yang sangat istimewa sebagai salah satu tarekat terbesar dan paling berpengaruh.

Ciri Khas: Pintu Terbuka

Jika setiap tarekat memiliki karakter khas, karakter Qadiriyah adalah keterbukaan. Tarekat ini tidak memiliki persyaratan awal yang ketat, tidak menuntut penarikan diri dari masyarakat, dan menerima siapa saja yang datang dengan niat yang tulus. Ini mencerminkan semangat Abdul Qadir sendiri, yang khotbah-khotbahnya di Baghdad ditujukan kepada semua orang, dari ulama hingga orang awam, dari pedagang hingga pengemis.

Prinsip ini menjadikan Qadiriyah sangat aksesibel dan menjelaskan penyebarannya yang luas. Tidak setiap orang mampu menjalani disiplin ketat Naqsyabandiyah atau pelatihan estetis Mevlevi. Tetapi hampir setiap orang dapat memulai jalan Qadiriyah: dengan niat yang tulus, bai’at kepada guru, dan komitmen untuk dzikir.

Praktik Utama

Dzikir

Dzikir dalam Qadiriyah biasanya dilakukan dengan suara keras (jahr), berbeda dari dzikir diam Naqsyabandiyah. Formula utamanya adalah la ilaha illallah yang diulang dengan penekanan pada penafian (la ilaha: tidak ada tuhan) dan penetapan (illallah: kecuali Allah). Gerakan kepala biasanya menyertai dzikir: ke kanan saat menafikan, ke kiri menuju hati saat menetapkan.

Pembacaan Manaqib

Tradisi pembacaan manaqib (biografi spiritual) Syekh Abdul Qadir al-Jilani sangat khas dalam Qadiriyah, terutama di Indonesia. Majelis manaqib diadakan secara rutin, sering pada malam Kamis atau malam Jumat. Pembacaan manaqib berfungsi sebagai media penghubungan spiritual (tawassul) dengan wali pendiri tarekat.

Pelayanan Sosial

Sesuai dengan karakter keterbukaannya, banyak cabang Qadiriyah menekankan pelayanan sosial sebagai bagian dari jalan spiritual. Memberi makan orang lapar, membantu yang membutuhkan, dan berbagi dengan sesama dipandang bukan sekadar amal kebaikan tetapi sebagai bentuk ibadah dan dzikir yang diwujudkan dalam tindakan.

Qadiriyah di Indonesia

Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN)

Bentuk paling populer di Indonesia adalah Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah (TQN), yang menggabungkan dzikir keras Qadiriyah dengan dzikir diam Naqsyabandiyah. TQN didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas (w. 1875 di Mekkah), seorang ulama kelahiran Kalimantan Barat yang mengajar di Mekkah.

Pesantren Suryalaya di Tasikmalaya, yang dipimpin oleh Abah Anom (KH Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin, 1915-2011), menjadi pusat TQN terbesar di dunia. Dari sana, TQN menyebar ke seluruh Indonesia dan bahkan ke luar negeri. Salah satu program paling terkenal adalah Inabah, rehabilitasi pecandu narkoba melalui dzikir dan ibadah, yang telah membantu ribuan orang.

Penyebaran Luas

Di luar TQN, Qadiriyah dalam berbagai bentuknya tersebar luas di Nusantara. Di Kalimantan, di Jawa, di Madura, di Sulawesi, nama Syekh Abdul Qadir al-Jilani dikenal dan dihormati oleh hampir setiap komunitas Muslim.

Tradisi membaca Manaqib Syekh Abdul Qadir sangat populer dan sering menjadi acara sosial-keagamaan yang menyatukan komunitas. Di banyak daerah, manaqib dibacakan pada malam-malam tertentu, disertai hidangan bersama dan doa kolektif.

Warisan dan Relevansi

Kekuatan Qadiriyah terletak pada kombinasi kedalaman spiritual dengan aksesibilitas. Ia menawarkan jalan yang dapat diikuti oleh siapa saja, tanpa prasyarat intelektual atau sosial, sambil tetap mempertahankan kedalaman spiritual yang otentik.

Di Indonesia, dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Qadiriyah dan TQN memainkan peran yang tidak tergantikan dalam menjaga dimensi batin Islam tetap hidup di tengah arus modernisasi dan sekularisasi. Jutaan orang Indonesia adalah anggota aktif yang rutin menghadiri majelis dzikir, mengikuti bimbingan guru, dan mempraktikkan jalan spiritual yang diwariskan dari Syekh Abdul Qadir al-Jilani.

Sumber

  • Abdul Qadir al-Jilani, Al-Fath al-Rabbani (c. abad ke-12)
  • Abdul Qadir al-Jilani, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq al-Haqq (c. abad ke-12)
  • Ahmad Khatib Sambas, Fath al-Arifin (c. abad ke-19)
  • Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia (1992)
  • Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren (1982)

Tag

qadiriyah abdul qadir jilani tarekat nusantara

Kutip Artikel Ini

Raşit Akgül. “Tarekat Qadiri: Jalan Pintu Terbuka.” sufiphilosophy.org, 3 April 2026. https://sufiphilosophy.org/id/tarekat/tarekat-qadiri.html